Ada Missing Link antara Simpanse dan Manusia Modern

Manusia modern non-Afrika mewarisi antara dua hingga empat persen DNA Neandertal.

neanderthal,fosil,nenek moyangPerbandingan anatomi manusia Neanderthal dengan manusia modern (Joe McNally, National Geographic)
"Pertanyaan akan asal-usul manusia selalu menjadi debat yang menarik," ujar Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta.
Herawati menyampaikan hal itu di hadapan peserta yang hadir dalam Seminar "Human Evolution and Archaic Admixture", di Lembaga Eijkman pada Selasa (29/10), untuk menyimak presentasi Richard Edward Green, seorang peneliti asal Department of Biomolecular Engineering, University of California-Santa Cruz mengenai penemuan terkini dan rencana kolaborasi penelitian lanjutan dengan Lembaga Eijkman.
Bersama 56 peneliti lain dari 21 institusi, ia merunut jejak leluhur manusia modern (Homo sapiens) berdasarkan genetika. Benarkah ada keterkaitan antara manusia modern yang hidup pada masa kini dengan manusia prasejarah Homo neanderthalensis?
"Memahami evolusi manusia tak sederhana. Jikalau menilik, melacak balik ke garis keturunan, manusia prasejarah Neandertal merupakan kerabat terdekat kita Homo sapiens," papar Green.
Menurut Green, ada missing link untuk melihat relasi antara simpanse (yang dikatakan kerabat terdekat manusia yang masih eksis hingga sekarang) dengan spesies manusia modern. Ini menjadi sulit diterangkan, sebab tidak sedikit spesies yang sudah punah. "Tapi yang secara luas ahli-ahli sepakati, kerabat terdekat manusia—yang telah mengalami kepunahan— adalah Neandertal," kata asisten profesor yang mendalami bidang populasi dan demografi ini.
Maka DNA dari fosil-fosil Neandertal lebih dekat untuk digunakan membantu mereka mengidentifikasi keunikan-keunikan manusia modern ketimbang dari DNA simpanse.
Selama dua dekade terakhir, metode pengambilan DNA purbakala pun telah berkembang maju. Perkembangan ilmu biologi molekuler di bidang teknologi terapan sekuensing DNA sudah bisa makin memudahkan penelitian. Melalui teknologi mutakhir yang disebut direct high-throughput sequencing, didapat data genomik fosil tulang Neandertal.
Ia mengungkapkan, "Kami menganalisis fosil yang ditemukan di Vindija, Kroasia. Dari total 21 tulang Neandertal, hasilnya ada DNA primata walau dalam presentase kecil 3,5 persen, tetapi sebagian besar sampel DNA memang merupakan mikroorganisme, jelas karena terkubur lama dalam gua."
Bukti kedua yaitu fosil yang ditemukan di gua Denisova, Pegunungan Althai, Siberia. Populasi manusia purba the Denisovan ini pun menunjukkan percampuran antara manusia modern dengan manusia purba Neandertal.
Lebih kontroversial, belulang the Denisovans menunjukkan terdapat bagian DNA yang punya kemiripan dengan DNA yang ditemukan pada populasi manusia di wilayah di sebelah timur garis Wallacea—Filipina, Flores, Maluka, Papua Nugini, Australia dan Oseania.
neanderthal,manusia purba,evolusi manusia,nenek moyang manusiaIlustrasi manusia Neanderthal. Dianggap sebagai saudara paling dekat dalam garis evolusi manusia yang hidup di Bumi 24.000 tahun lalu. Neanderthal ditemukan di Eropa, Asia Tengah, dan Asia Barat.(thinkstockphoto)
"Ini mengejutkan. Kecocokan hanya ditemukan pada orang-orang yang berada di timur garis Wallacea. Juga memancing pertanyaan baru soal kaitannya dengan Homo floresiensis, manusia purba yang ditemukan di Liang Bua, Flores." (Baca mengenai si "Hobbit" di Tautan Ini)
Homo neanderthalensis hidup di Eropa dan sebagian kecil kawasan Asia Barat sebelum lenyap 30.000 tahun silam. Ratusan tahun silam diperkirakan nenek moyang Homo sapiens mulai melakukan migrasi, keluar dari Afrika menuju wilayah Eropa dan Asia, bertemu dan berinteraksi hingga mengalamiadmixture (percampuran) dengan Neandertal.
Pertanyaan besar lainnya adalah kapan manusia berpisah dari Neandertal dan bermigrasi. Rentang waktu penyebaran ini diyakini juga menentukan saat untuk kedua kelompok saling bertukar gen. Tersisa pula pertanyaan apa yang sesungguhnya menyebabkan Neandertal punah—dari sekian banyak teori dan gagasan?
Ed juga menelaah, guna analisis lebih lanjut, lewat membandingkan susunan gen dari ras dari manusia modern non-Afrika dan Afrika. Perbandingan antara populasi di Prancis, suku Han, dan Papua di luar Afrika, serta suku Yoruba dan San di Afrika, memperlihatkan kontribusi genetik Neandertal sekitar 2-4 persen dapat ditemukan pada gen manusia sekarang non-Afrika atau, secara spesifik, orang Eurasia.
"Selain itu juga, bukti percampuran manusia purba disinyalir pada populasi pigmi di Afrika. Berbagai temuan ini menggambarkan betapa kompleksnya evolusi manusia modern, yang melibatkan sejumlah kejadian percampuran dengan manusia purba," ujar Ed.
Tentunya belum berakhir perjalanan melacak jejak moyang manusia modern. Lantas berapa banyak lagi kepingan yang masih belum terkumpul? Peneliti takkan berhenti melacak dan tidak putus-putusnya mencari bukti penguat.
Ed sendiri mengatakan, ia akan melakukan investigasi lebih mendalam tentang apa yang membuat manusia modern unik. "Karena saya berpikir; pada suatu waktu di masa lalu, kita pernah berbagi Bumi dengan spesies hominin lain, yang mungkin berasal dari leluhur yang sama. Bagaimanakah kita saling berinteraksi?"

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/terus-melacak-jejak-leluhur-manusia.

Langkanya Makanan Sebabkan Manusia Flores Menjadi "Hobbit"

Dalam teori terbaru ini disebutkan bahwa manusia katai Flores ini merupakan keturunan Homo erectus

orang kerdi,flores,homo floresiensisPerbandingan tengkorak orang kerdil dari Flores (Homo floresiensis) (kiri) dengan Homo sapiens. Dalam hal ukuran, tengkorak Homo floresiensis sebesar tengkorak anak usia tiga tahun pada manusia modern. (Peter Brown/Nature/National Geographic News).
Sekelompok peneliti Jepang melontarkan teori baru mengenai manusia katai Flores (Homo floresiensis), Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitian yang mereka paparkan dalam jurnalProceedings of the Royal Society B, mereka menyatakan para "hobbit" ini masih keturunan dari Homo erectus.
Tubuh Homo erectus yang besar, akhirnya mengecil karena menyesuaikan dengan sumber makanan yang sedikit. "Berlawanan dengan perkiraan peneliti lain, ada kemungkinan bahwa tubuh besar dari Homo erectus Jawa yang bermigrasi ke pulau terpencil, akhirnya berevolusi menjadi Homo floresiensis," ujar pemimpin penelitian Yousuke Kaifu dari National Museum of Nature and Science, Tokyo, Jepang, Selasa (16/4).
Kesimpulan para peneliti Jepang ini bertentangan dengan beberapa kesimpulan hasil studi lain. Studi awal menyebut bahwa manusia katai ini merupakan keturunan Homo habilis. Tapi teori ini patah karena beberapa kritikus menyebut tidak pernah ada bukti manusia ini sampai ke Asia.
orang kerdil,flores,homo floresiensisIlustrasi manusia Homo floresiensis yang berdasarkan temuan rangka hanya setinggi anak usia tiga tahun manusia modern. (Peter Schouten/National Geographic)
Studi berikutnya menyebut bahwa para "hobbit" ini adalah Homo sapiens yang mengidap kelainan saraf akibat kekurangan iodin dalam asupan makanan. Ini menyebabkan otak manusia Flores relatif kecil. Tapi lagi-lagi teori ini runtuh karena "hobbit" cukup cerdas untuk membunuh hewan, menggunakan api, dan alat lain untuk menyajikan makanan.
"Hobbit" merujuk pada tokoh mungil ciptaan J.R.R. Tolkien yang terbit dalam bentuk buku dan film. Manusia katai Flores sendiri memiliki tinggi sekitar satu meter dan bobot hanya 25 kilogram.
Dalam edisi perdana National Geographic Indonesia, April 2005, disebutkan bahwa Thomas Sutikna dari Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas), yakin Homo floresiensis adalah spesies baru. Pendapatnya disokong oleh paleontolog Peter Brown.
"Dari hanya melihat tulang rahangnya selama 60 detik saja, saya sudah tahu bahwa (spesies) ini adalah sesuatu yang baru," ujar Brown saat itu.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/langkanya-makanan-sebabkan-manusia-flores-menjadi-hobbit

Apakah Leluhur Manusia Modern Pernah Kawin dengan Neandertal?

Sejak 1990-an, para ahli percaya bahwa Neandertal terakhir mengungsi di Semenanjung Spanyol dan akhirnya punah sekitar 30.000 tahun silam.

neandertal,spanyolFosil tengkorak manusia Neanderthal yang ditemukan di selatan Spanyol (SPL/BBC Indonesia)
Sebuah temuan baru meragukan teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang manusia modern telah melakukan perkawinan silang dengan manusia Neandertal selama ribuan tahun.
Para ilmuwan meneliti usia fosil Neandertal di dua lokasi di Spanyol bagian selatan dan menyimpulkan mereka jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.
Dengan kata lain, demikian temuan baru ini, tidak mungkin manusia Neandertal dan manusia modern pernah hidup bersama di wilayah tersebut, demikian laporan wartawan sains kantor berita AP, John von Radowitz.
Menurut para peneliti, kemungkinan besar Neandertal telah lama meninggalkan kawasan tersebut sebelum kedatangan Homo sapiens (manusia modern) pertama.
Sejak 1990-an, para ahli percaya bahwa Neandertal terakhir mengungsi di Semenanjung Spanyol dan akhirnya punah sekitar 30.000 tahun yang lalu.
Pernah kawin?
Sejumlah analisa selama ini menyebutkan pula bahwa sebagian DNA manusia Neandertal telah bercampur manusia modern melalui perkawinan.
Hal ini didasarkan hipotesa bahwa manusia modern menguasai kawasan yang ditempati orang-orang Neanderthal 10.000 tahun sebelumnya.
Tetapi penelitian terbaru, yang menggunakan metode penanggalan menunjukkan, manusia Neandertal menguasai Spanyol hanya berlangsung sampai sekitar 45.000 sampai 50.000 tahun lalu.
Sebelumnya, sebagian ahli yakin jejak DNA Neanderthal dapat ditemukan pada manusia modern yang hidup saat ini, terutama orang Eropa.
Walaupun masih diperdebatkan, beberapa ahli percaya bahwa tautan genetik itu terjadi karena Neandertal dan manusia modern memiliki nenek moyang yang barangkali telah tinggal di Afrika Utara.
Keduanya diduga pindah ke Eurasia dari Afrika, tetapi pada waktu yang berbeda.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/apakah-leluhur-manusia-modern-pernah-kawin-dengan-neandertal.

Leluhur yang Hilang

Leluhur yang Hilang


DNA dari sebuah gua di Rusia menambah anggota baru dalam keluarga manusia.

OLEH JAMIE SHREEVE 
FOTO OLEH ROBERT CLARK
Di Pegunungan Altay di bagian selatan Siberia, sekitar 350 kilometer dari titik persentuhan Rusia dengan Mongolia, Cina, dan Kazakhstan, terdapat sebuah gua bernama Denisova. Sudah sejak lama tempat itu menarik pengunjung.

Manusia Neolitik, dan kemudian para pastoralis, menggunakan gua itu sebagai tempat berteduh,
mengumpulkan hewan gembalaan mereka di sekitar gua selama musim dingin. Karena mereka, para ahli arkeologi yang bekerja di Denisova saat ini­—dikelilingi oleh dinding gua yang dipenuhi grafiti baru—harus meng­gali lapisan dalam kotoran kambing untuk mem­peroleh deposit yang terkandung di dalamnya.

Tetapi, bilik utama gua memiliki langit-langit tinggi melengkung. Ada lubang di dekat puncaknya, yang memungkinkan berkas sinar matahari menerobos langsung ke dalam gua, sehingga tempat itu seakan-akan sesakral gereja.

Di bagian belakang gua terdapat sebuah bilik yang lebih kecil. Pada Juli 2008, seorang ahli arkeologi muda dari Rusia bernama Alexander Tsybankov menggali di sana. Dia men­cari depo­sit yang dipercaya telah berusia sekitar 30.000 sampai 50.000 tahun, dan menemukan secuil tulang: sepotong serpihan dengan pinggiran bergerigi seukuran kerikil, yang bisa dengan mudah terlumat oleh ujung sepatu.

Selanjutnya, seorang ahli paleoantropologi yang saya temui di Denisova menggambarkan tulang tersebut sebagai “fosil paling spektakuler yang pernah saya lihat. Saking spektakulernya, ini membuat depresi.” Tsybankov memungut dan mengantonginya untuk ditunjukkan kepada seorang ahli paleontologi di kamp.

Sang ahli paleontologi mengidentifikasinya sebagai serpihan dari ujung jari primata—ter­utama bagian yang berhadapan dengan sendi ter­akhir kelingking. Karena tidak ada bukti mengenai keberadaan primata selain manusia di Siberia sejak 30.000 hingga 50.000 silam, fosil itu diperkirakan berasal dari semacam manusia.

Dilihat dari persendiannya yang belum tersambung sempurna, manusia tersebut diperkirakan mati muda, barangkali saat berumur delapan tahun. Anatoly Derevianko, ketua penggalian Altay, menduga bahwa tulang itu berasal dari anggota spesies kita sendiri,Homo sapiens.

Artefak-artefak canggih yang hanya bisa dihasilkan oleh manusia modern, termasuk gelang cantik dari permata hijau, sebelumnya telah ditemukan di deposit yang sama. Tetapi, DNA dari fosil yang ditemukan sebelumnya di sebuah gua di dekat sana terbukti berasal dari manusia Neanderthal, sehingga tulang ini kemungkinan juga milik manusia Neanderthal.

Derevianko memutuskan untuk membelah tulang itu menjadi dua bagian. Dia mengirim se­tengahnya ke sebuah laboratorium genetika di California. Sejauh ini, dia belum mendengar kabar dari potongan itu lagi. Dia memasukkan setengah sisanya ke dalam amplop dan me­nyerah­kannya langsung kepada Svante Pääbo, seorang ahli genetika evolusioner di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman.

Di sanalah kasus tulang kelingking Denisova mengalami perkembangan yang mengejutkan.
Pääbo, yang berdarah Swedia, adalah ahli DNA purba terkemuka di dunia, terutama di bidang DNA manusia. Pada 1984, dia menjadi orang pertama yang berhasil mengisolasi DNA dari sesosok mumi Mesir. Pada 1997, dia ber­hasil melakukan hal yang sama pada manusia Neanderthal, sejenis manusia yang punah lebih dari 25.000 tahun sebelum firaun Mesir.

Ketika Pääbo menerima paket dari Dere­vianko, timnya tengah bekerja keras untuk meng­ambil rentetan pertama dari keseluruhan genom Neanderthal—tugas lain yang semula tampak mustahil, dan menyedot hampir segenap perhatiannya. Labnya juga menampung fosil-fosil lain dari seluruh bagian dunia untuk diuji. Maka, baru pada akhir 2009 tulang jari mungil dari Rusia itu menarik perhatian Johannes Krause, ketika itu anggota senior tim Pääbo.

Seperti semua orang lainnya, Krause menduga bahwa tulang itu berasal dari awal mula manusia modern. Dia telah mengembangkan metode untuk memisahkan DNA fosil semacam itu dari DNA para arkeolog, pekerja museum, dan siapa pun yang mungkin telah memegang dan menyebabkannya terkontaminasi.

Dari tulang jari itu, Krause dan muridnya Qiaomei Fu mengekstraksi DNA mitokondrial (mtDNA), sekelumit genom yang ratusan kopinya terkandung di dalam sel hidup sehingga lebih mudah ditemukan di dalam tulang purba. Mereka membandingkan sekuen DNA itu dengan milik manusia modern dan manusia Neanderthal. Kemudian mereka mengulangi analisis karena tidak bisa memercayai hasil yang mereka peroleh dari percobaan pertama.

Ketika Pääbo sedang pergi, Krause me­ngumpul­kan semua staf lab dan menantang siapa pun untuk memberikan penjelasan ber­beda atas apa yang sedang dilihatnya. Tidak ada yang bisa. Kemudian dia menghubungi ponsel Pääbo. “Johannes bertanya apakah saya sedang duduk,” Pääbo mengenang. “Saya menjawab tidak, dan dia menyuruh saya mencari kursi.”

Krause sendiri mengingat hari itu sebagai “hari paling mendebarkan di bidang sains dalam hidup saya.” Serpihan kecil tulang jari itu, sepertinya, sama sekali tidak berasal dari manusia modern. Tetapi juga bukan dari manusia Neanderthal. Tulang itu berasal dari ma­nu­sia jenis lainnya, yang tidak pernah ditemukan sebelumnya.

Pada juli 2011, Anatoly Derevianko meng­organisasi sebuah simposium sains di kamp arkeologi yang ter­letak beberapa ratus meter dari Gua Denisova. Derevianko menyambut 50 orang peneliti, termasuk Pääbo, yang hadir untuk berbagi pandangan mereka mengenai bagai­mana manusia baru misterius itu sesuai dengan fosil rekaman arkeologi evolusi manusia di Asia.

Setahun sebelumnya, dua fosil lainnya di­dapati mengandung DNA yang sama dengan tulang jari itu, dan keduanya berwujud gigi geraham. Gigi pertama lebih besar daripada gigi manusia modern atau manusia Neanderthal, dalam ukuran dan bentuk menyerupai gigi anggota genus Homo yang jauh lebih primitif, yang tinggal di Afrika jutaan tahun silam.

Geraham kedua ditemukan pada 2010, di bilik gua yang sama, tempat tulang jari ditemukan—dekat dasar lapisan deposit berumur 30.000-50.000 tahun yang sama, yang dinamai Layer 11. Gigi itu lebih besar daripada yang pertama, dengan permukaan kunyah dua kali lebih lebar daripada tipikal geraham manusia.

Saking besarnya, ahli paleoantropologi dari Max Planck, Bence Viola, salah mengiranya sebagai gigi beruang gua. Baru setelah DNA-nya diuji, dapat dipastikan bahwa gigi itu milik manusia—khususnya Denisova, nama yang diberikan oleh para ilmuwan kepada para leluhur baru itu. “Ini menunjukkan betapa anehnya mereka,” kata Viola kepada saya di simposium. “Paling tidak, gigi mereka aneh sekali.”

Tim Pääbo hanya berhasil mengekstraksi sedikit DNA dari gigi itu—hanya cukup untuk membuktikan bahwa keduanya berasal dari populasi yang sama dengan tulang jari, walaupun bukan dari individu yang sama. Akan tetapi, DNA yang diperoleh dari tulang jari jauh lebih melimpah.

DNA terdegradasi seiring waktu, sehingga biasanya yang tersisa di sepotong tulang berusia puluhan ribu tahun sangatlah sedikit. Terlebih lagi, secara tipikal, DNA dari tulang—yang disebut DNA endogen—hanyalah sebagian kecil dari total DNA dalam sebuah spesimen, yang sebagian besarnya berasal dari bakteri tanah dan berbagai pencemar lainnya.

Tidak satu pun dari fosil manusia Neanderthal yang pernah diuji oleh Pääbo dan rekan-rekannya mengandung lebih dari lima persen DNA endogen, dan sebagian besarnya hanya mengandung kurang dari satu persen. Sungguh menakjubkan bahwa tulang jari itu mengandung 70 persen endogen. Rupanya gua yang bersuhu dingin telah mengawetkannya dengan baik.

Berkat DNA yang melimpah, para ilmuwan dapat dengan mudah memastikan bahwa tidak ada kromosom laki-laki Y di spesimen itu. Ujung jari tersebut berasal dari seorang anak perempuan yang tewas di atau di dekat Gua Denisova puluhan ribu silam. Para ilmu­wan pada awalnya kesulitan mereka-reka wujud­nya—hanya bisa memastikan bahwa dia jauh berbeda dari apa pun yang pernah mereka lihat.

Selama beberapa waktu, mereka juga mengira telah mendapatkan jari kakinya. Pada musim panas 2010, sepotong tulang jari kaki terkuak, bersama sebuah gigi besar, dari Layer 11. Di Leipzig, seorang mahasiswa pascasarjana ber­nama Susanna Sawyer menganalisis DNA-nya.

Di simposium pada 2011, untuk pertama kalinya dia mempresentasikan hasil penelitiannya. Semua orang terkejut ketika mendengar bahwa tulang jari itu ternyata berasal dari manusia Neanderthal, yang mempertebal kabut misteri tempat itu.

Gelang permata hijau yang sebelumnya ditemukan di Layer 11 hampir bisa dipastikan dibuat oleh manusia modern. Tulang jari kaki berasal dari manusia Neanderthal, dan tulang jari tangan berasal dari sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Satu gua, tiga jenis manusia. “Denisova menyimpan keajaiban besar,” kata Pääbo.

“Kita kini mengetahui bahwa manusia Neanderthal, Denisova, dan manusia modern pernah hidup di gua itu.” Pääbo berusia 58 tahun, jangkung dan ramping, bertelinga lebar, ber­kepala lonjong, dan beralis tebal yang naik dan turun saat dia berbicara dengan penuh semangat—tentang Denisova, misalnya.

Bagaimana mungkin ketiga jenis manusia itu berakhir di sana? Apa hubungan antara manusia Neanderthal, Denisova, dan jenis manusia yang ada saat ini? Apakah leluhur mereka ber­hubungan seks dengan jenis kita? Pääbo me­miliki sejarah dengan jenis pertanyaan itu.

DNA Neanderthal yang digelutinya pada 1997 benar-benar berbeda dengan DNA manusia yang kini menghuni Bumi. Itu sepertinya men­­cerminkan bahwa manusia Neanderthal ber­asal dari spesies yang berbeda dari kita, dan kini telah punah—kemungkinan segera setelah leluhur kita pertama kali bermigrasi dari Afrika menuju wilayah Neanderthal di Asia bagian barat dan Eropa. 

Tetapi, DNA itu, seperti yang pertama kali diekstraksi oleh Krause dari jari Denisova, adalah mtDNA: Berasal dari mitokondria, organel penghasil energi di dalam sel, bukan dari nukleus sel, tempat sebagian besar genom kita berada. DNA mitokondria hanya mencakup 37 gen, dan hanya diwarisi dari ibu. Itu adalah rekaman terbatas sejarah populasi, bagaikan satu halaman yang dirobek dari sebuah buku.

Ketika simposium Denisova berlangsung, Pääbo dan para koleganya telah mempublikasi­kan draf pertama dari keseluruhan genom Neander­thal dan Denisova. Membaca lebih banyak halaman lagi memungkinkan Pääbo dan rekan-rekannya—termasuk David Reich di Harvard University dan Montgomery Slatkin di University of California, Berkeley—mengungkap bahwa genom manusia modern sesungguhnya mengandung kode Neanderthal yang berjumlah kecil namun signifikan, rata-rata sekitar 2,5 persen.

Masih ada kemungkinan bahwa manusia Neanderthal terdorong ke ambang kepunahan oleh manusia baru yang aneh, beralis tinggi, yang mengikuti mereka keluar dari Afrika. Tetapi, itu terjadi setelah pem­bauran yang menyisakan sedikit sifat Neanderthal di dalam sebagian besar dari kita, 50.000 tahun kemudian.

Hanya satu kelompok manusia modern yang terbebas dari pengaruh tersebut: manusia Afrika, karena pembauran terjadi di luar benua itu. Walaupun genom Denisova menunjukkan bahwa mereka lebih dekat dengan manusia Neanderthal, mereka ternyata juga meninggal­kan jejak pada diri kita. Tetapi pola geografis­nya janggal.

Ketika membandingkan genom Denisova dengan berbagai macam genom manusia modern, para peneliti tidak menemu­kan jejaknya di Rusia atau sekitar Cina, atau di mana pun—kecuali di genom manusia Nugini, jenis manusia lain dari kepulauan di Melanesia, dan suku Aborigin di Australia. Rata-rata genom mereka mengandung lima persen Denisova. Negrito di Filipina memiliki 2,5 persen.

Setelah menghimpun semua data yang ada, Pääbo dan timnya merumuskan sebuah skenario untuk menjelaskan apa yang mungkin telah terjadi. Pada suatu waktu sebelum 500.000 tahun silam, kemungkinan di Afrika, leluhur manusia modern menyimpang dari garis keturunan yang kemudian memunculkan manusia Neander­thal dan Denisova. (Kemungkinan besar leluhur dari ketiga tipe manusia tersebut adalah spesies bernama Homo heidelbergensis.)

Sementara leluhur kita tetap tinggal di Afrika, leluhur Neanderthal dan Denisova bermigrasi. Keduanya kemudian berpisah, Neanderthal mula-mula bergerak ke barat menuju Eropa, dan Denisova menyebar ke timur, barangkali akhirnya menduduki sebagian besar benua Asia.

Nantinya, ketika manusia modern sendiri keluar dari Afrika, mereka bertemu dengan Neanderthal di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, dan secara terbatas melakukan kawin silang dengan mereka. Menurut bukti yang dipresentasikan oleh David Reich di simposium Denisova, pembauran itu ke­mungkinan besar terjadi sekitar 67.000 hingga 46.000 tahun silam.

Satu populasi manusia modern kemudian melanjutkan perjalanan ke timur menuju Asia Tenggara, dan sekitar 40.000 tahun silam, mereka berjumpa dengan Denisova. Manusia modern kemudian mem­­baur dengan mereka dan bergerak ke Australasia, membawa serta DNA Denisova.

Skenario ini bisa menjelaskan mengapa bukti yang ditemukan sejauh ini mengenai keberadaan Denisova hanyalah tiga fosil dari sebuah gua di Siberia dan kandungan lima persen di dalam genom manusia yang saat ini tinggal ribuan kilometer di tenggara. Namun, masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Jika Denisova menyebar sejauh itu, mengapa tidak ada jejak mereka di genom bangsa Han dari Cina atau pada penduduk Asia lainnya di antara Siberia dan Melanesia? Mengapa mereka tidak meninggalkan jejak dalam rekaman arkeologi—tidak ada peralatan yang mencolok, misalnya? Siapakah mereka sesungguhnya? Seperti apa wujud mereka? “Jelas bahwa kita perlu bekerja lebih keras,” kata Pääbo di simposium Denisova.

Dari semua perkembangan yang ada, yang terbaik mungkin adalah mendapatkan DNA Denisova di tengkorak atau fosil lainnya yang memiliki fitur morfologis menonjol, yang bisa berfungsi sebagai Batu Rosetta untuk memeriksa ulang seluruh rekaman fosil Asia. Ada beberapa kandidat menarik, sebagian besarnya berasal dari Cina, terutama tiga tengkorak yang berasal dari antara 250.000 hingga 100.000 tahun silam.

Sayangnya, DNA tidak terawetkan dengan baik di iklim hangat. Hingga saat ini, belum ada fosil lain yang diidentifikasi sebagai Denisova dengan satu-satunya cara Denisova dapat dikenali, yaitu DNA mereka.

Pada 2012, Tim Pääbo memublikasikan versi baru genom jari tulang. Yang me­nakjubkan, keakuratan dan ke­lengkapannya menyamai susunan genom manusia modern. Terobosan ini di­buat Matthias Meyer, seorang peneliti pascadoktoral di lab Pääbo.

DNA terdiri dari dua pita yang saling menjalin—yang dikenal luas sebagai heliks ganda. Sebelumnya, metoda untuk mem­peroleh DNA dari fosil tulang hanya dapat membaca susunan (genom) jika kedua pita terawetkan. Meyer telah mengembangkan teknik untuk mengambil fragmen pendek dari satu pita DNA, yang sangat menambah jumlah materi mentah untuk ditelaah. 

Metoda ini meng­­hasilkan versi genom anak perempuan Deni­sova yang begitu tepat, sehingga timnya dapat memisahkan masing-masing informasi genetis yang diperolehnya dari ibu dan ayahnya. Hasilnya, mereka kini memiliki dua set genom Denisova yang memiliki akurasi tinggi dari masing-masing orang tua. Perkembangan ini membuka jendela sejarah populasi mereka.

Yang baru-baru ini terungkap adalah kecil­­nya variasi di antara genom orang tua—se­kitar sepertiga dari yang biasanya ter­­dapat pada manusia modern. Pola ini meng­indikasi­kan bahwa populasi Denisova yang di­re­presentasikan oleh fosil itu tidak cukup besar untuk memungkinkan keanekaragaman genetis.

Lebih buruk lagi, populasi mereka sepertinya mengalami penurunan drastis pada suatu masa sebelum 125.000 tahun silam—anak perempuan di gua itu bisa jadi yang terakhir dari jenisnya. “Sungguh luar biasa, karena tidak ada se­orang pun yang berkeliaran dengan sejarah populasi semacam itu sekarang,” ujar Pääbo, menaikkan alisnya.

Setelah memegang setiap abjad dari kode genetis Denisova, Pääbo dan para koleganya dapat membidik salah satu misteri terbesar: Di genom kita, apakah yang menjadikan kita seperti ini? Apakah perubahan menentukan yang terjadi dalam kode genetis setelah kita ter­pisah dari leluhur terakhir kita?

Mengingat bahwa semua manusia modern memiliki banyak persamaan genetis namun pola genom Denisova lebih mirip kera primitif, para peneliti menghasilkan daftar yang ternyata pendek. Pääbo menyebutnya “resep genetis untuk menjadi manusia modern.” Daftar itu mencakup hanya 25 perbedaan yang akan me­ngubah fungsi protein tertentu.

Menariknya, lima dari protein tersebut di­ketahui memengaruhi fungsi otak dan per­kembangan sistem saraf. Yang belum terungkap adalah bagaimana peran gen-gen itu dalam mem­buat kita berpikir, bertindak, atau berbicara dengan cara yang berbeda dari Denisova, atau makhluk lainnya di muka Bumi. Kontribusi jangka panjang dari meneliti DNA Denisova, menurut Pääbo, adalah “mencari apa yang men­jadi­kan manusia eksklusif.”

Tetapi bagaimana dengan anak perempuan itu? Anak perempuan itu telah berubah wujud menjadi “perpustakaan” fragmen DNA yang bisa disalin berulang kali untuk selamanya. Dalam makalah ilmiah yang membahas tentang sejarah populasinya, Pääbo dan timnya menyebutkan, hampir sekilas, beberapa fakta tentangnya yang berhasil mereka korek dari perpustakaan itu: Dia barangkali berambut gelap, bermata gelap, dan berkulit gelap.

Tidak banyak, tetapi paling tidak informasi itu memberikan garis besar mengenai penampilannya. Agar kita tahu kepada siapa kita harus berterima kasih.


Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/feature/2013/01/leluhur-yang-hilang.

Manusia dan Neanderthal Berpisah Lebih Awal?

Studi baru berteori, leluhur bersama Homo sapiens dan Neanderthal hidup jauh lebih dulu dibanding perkiraan.

tengkorak,homo neanderthalensis,homo sapiensTengkorak Homo neanderthalensis (kiri) dan tengkorak perempuan modern Homo sapiens. (David Liitschwager, National Geographic)
Dalam silsilah manusia prasejarah, Neanderthal merupakan kerabat terdekat kita. Kita sangat dekat, bahkan spesies kita saling kawin dengan mereka. Jika melacak balik ke garis keturunan, pasti setidaknya ada satu nenek moyang yang sama antara Homo sapiens dan Neanderthal dalam satu waktu di masa pra sejarah.
Tetapi, siapakah manusia misterius tersebut? Memilih siapa nenek moyang langsung di catatan fosil cukup pelik. Untuk mengetahui kapan nenek moyang bersama antara Homo sapiens dan Neanderthal, para paleoanthropolog telah melakukan pencarian pada bukti-bukti genetik dan anatomik.
Dalam lima tahun terakhir, anthropolog telah menggunakan DNA untuk merekonstruksi evolusi sejarah manusia. Peneliti telah mengindikasikan kisaran waktu saat nenek moyang bersama dari garis keturunan kita dan Neanderthal mungkin pernah hidup.
Tanggalnya berada di kisaran antara 800 ribu sampai sekitar 300 ribu tahun lalu, dengan banyak yang memperkirakan, waktunya di antara kisaran 400 ribu tahun lalu. Menurut sejumlah studi, kurun waktu ini tampaknya cocok dengan waktu punahnya spesies Homo heidelbergensis, yang ditemukan di Afrika, Eropa, dan kemungkinan juga di Asia.
Tetapi, bisa jadi tidak demikian. Sebuah studi baru berteori bahwa nenek moyang bersama Homo sapiens dan Neanderthal hidup jauh lebih dulu dibanding perkiraan, namun belum ada bukti-bukti fosil yang ditemukan.

Apa yang baru?
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Aida Gomez-Robles, anthropolog asal George Washington University dan rekan-rekannya beralih ke gigi untuk menguji apa yang diperoleh dari genetik.
Menggunakan koleksi 1.200 gigi geligi dari berbagai manusia prasejarah, peneliti berhasil memfokuskan tanda tertentu pada gigi. Tanda ini kemudian digunakan untuk merekonstruksi bentuk gigi dari nenek moyang bersama pada titik penting dalam sejarah evolusi.
Logika di balik metode ini, kata Gomez-Robles, adalah bahwa "bentuk gigi yang paling memungkinkan dari spesies nenek moyang adalah bentuk yang diamati pada kedua spesies bersaudara." Dalam kasus Homo sapiens dan Neanderthal, garis keturunan keduanya diperkirakan memiliki gigi dengan bentuk dan anatomi yang berada di tengah-tengah kedua spesies.
Dengan mempertimbangkan bentuk hipotetis tersebut, Gomez-Robles dan peneliti lainnya membandingkan apa yang diharapkan dari temuan fosil sejauh ini."Jika sebuah spesies fosil sangat mirip dengan morfologi nenek moyang, maka artinya spesies tersebut kemungkinan merupakan nenek moyang," kata Gomez-Robles, meski ia menekankan bahwa persamaan lebih memungkinkan dibandingkan dengan bukti nyata terkait leluhur.

Mengapa penting?
Perkiraan berdasarkan DNA menunjukkan bahwa nenek moyang bersama terakhir dari H. sapiens dan Neanderthal hidup sekitar 400 ribu tahun lalu. Ini membuat H. heidelbergensis, spesies yang menyebar luas di kurun waktu tersebut, kemungkinan merupakan kandidat yang baik untuk leluhur yang dimaksud.
Namun, studi baru ini berkontradiksi dengan pemikiran tersebut. Rekonstruksi gigi dari leluhur bersama manusia dan Neanderthal yang dibuat oleh Gomez-Robles dan rekan-rekannya tidak sama dengan gigi milik H. heidelbergensis.
Bahkan, peneliti menemukan bahwa tak satupun spesies manusia yang hidup di kurun waktu yang diprediksikan oleh data genetik cocok dengan pola gigi yang dibuat oleh studi di atas. Selain itu, "Spesies Eropa yang kemungkinan menjadi kandidat menunjukkan persamaan morfologis dengan Neanderthal," sebut Gomez-Robles yang mengindikasikan bahwa manusia-manusia ini sudah berada di sisi Neanderthal saat terpisah.
Ini mengindikasikan bahwa leluhur bersama H. sapiens dan Neanderthal hidup dalam kurun waktu yang lebih awal, mungkin hingga satu juta tahun yang lalu.

Apa artinya?
Paleoanthropolog belum menemukan leluhur bersama kita dengan Neanderthal. Melacak manusia yang sulit dipahami ini membutuhkan kita mengamati koleksi museum dan melanjutkan studi di lapangan.
Dari hasil studi baru ini, Gomez-Robles menyebutkan bahwa "kami berpendapat bahwa kandidat ini haris dicari di Afrika." Saat ini, fosil berusia satu juta tahun miliki manusia prasejarah H. rhodesiensis dan H. erectus tampak menjanjikan.
Titik penting dari pra sejarah manusia di Afrika masih kabur. "Tidak banyak fosil Afrika tersisa yang berasal dari satu juta tahun lalu," kata Gomez-Robles, dan fosil yang sudah ditemukan sering kali merupakan H. erectus.
Tetapi, apakah mereka benar-benar milik spesies tersebut? Mungkin ada manusia yang belum diketahui tersembunyi di antara fosil-fosil tersebut dan manusia ini mungkin menjadi kunci untuk memecahkan teka-teki kapan nenek moyang kita berpisah dari Neanderthal.
Terkait apakah spesies tersebut akan ditemukan di lapangan atau bersembunyi di balik sisa-sisa dan serpihan rusak fosil yang sudah dikumpulkan, masih merupakan misteri yang menunggu dipecahkan.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/manusia-dan-neanderthal-berpisah-lebih-awal

Foto Angkasa Raya yang Luar Biasa Dan Menakutkan


1.Eerie Fog


 NASA photo of NGC 1999, a nebula in the constellation Orion

2.Harrowing Escape



Photo of outer space

3.Franken Nebula


ESO photo of the stellar cluster NGC 2467 in the southern constellation of Puppis or "The Stern"

4.Black Widow Nebula


  Black Widow Nebula picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

5.Eye of Sauron


Fomalhaut system picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

6.Planet Hell


Corot 7b picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects


7.Blood Moon


Blood moon picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

8.Zombie Star



Composite picture of Tycho's supernova remnant showing an x-ray arc

9.Orion's Bat


Bat-shaped nebula picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

10.Black Hole Cannibal


Picture of galaxy NGC 3993 showing two central black holes

11.Little Ghost Nebula


Ghost nebula picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

12.The Death Star


Saturn moon picture: part of a Halloween gallery of spooky space objects

13.Vampire Stars


An illustration depicting two ''blue straggler'' stars.

Sumber Referensi:
Source1;http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/foto-angkasa-raya-yang-menakutkan Source2;http://news.nationalgeographic.com/news/2013/10/pictures/131031-spooky-space-halloween-zombies-vampires-stars-photos/