Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

"7 Strong Men", Keajaiban 7 Batu Raksasa yang Penuh Misteri dan Mitos

Menjulang keluar dari sebuah dataran tinggi di daerah terpencil di Pegunungan Ural, formasi tujuh batu dari Manpupuner di Republik Komi ini terselubung dalam misteri karena mereka kadang-kadang berada dalam badai salju dan kabut. 

Dikenal sebagai "7 Strong Men", menara-menara batu raksasa ini dianggap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban Rusia, dan penuh mistis. Manpupuner menarik pengunjung dari seluruh negeri yang luas.


Manpupuner yang dalam bahasa Mansi berarti "Gunung kecil para dewa" tidak banyak dikenal di luar Rusia, berdiri di daerah utara yang terisolasi dan tidak ramah. Dan sementara sejak zaman dahulu totem batu raksasa ini telah menjadi sumber dari segala macam mitos dan dongeng. Informasi mengenai asal-usul mereka sebenarnya sulit didapat.




Menurut legenda lokal, pilar-pilar batu ini dulunya adalah rombongan raksasa Samoyed yang berjalan melalui pegunungan ke Siberia untuk menghancurkan orang-orang Vogulsky. Namun, setelah melihat gunung suci Vogulsky, dukun dari para raksasa menjatuhkan drum-nya dan seluruh rombongan raksasa berubah menjadi pilar-pilar batu.

Menurut salah satu sumber, awal dari keajaiban alam yang luar biasa ini kembali ke masa 200-300 juta tahun lalu, ketika di tempat itu berdiri sebuah gunung. Dengan berjalannya waktu, erosi yang disebabkan oleh hujan, angin, es dan fenomena meteorologi lainnya, perlahan tapi pasti mengikis batuan yang lebih lunak dan meninggalkan tujuh pilar yang berdiri hingga hari ini. Hal ini masih dalam perdebatan.

Yang tak dapat disangkal dari Manpupuner adalah kesan yang mereka berikan bagi siapa saja yang menyaksikannya secara langsung. Berdiri sendirian di hamparan yang luas tanpa batu lainnya atau gunung yang terlihat, obyek geologi ini luar biasa besar, jauh melebihi pengunjung yang berdiri di sekitar mereka dan membuat megalit buatan manusia yang paling kuno sekalipun tampak seperti lembaran yang relatif kecil dibandingkan batu-batu ini.




Terlebih lagi, totem batu yang menjulang tinggi ini tidak hanya luar biasa dalam hal ukuran dan lokasi mereka, tetapi juga karena bentuk mereka yang menakjubkan dan sedikit aneh. Beberapa kolom batu ini yang sempit di bagian dasar, dan sementara enam batu bergerombol, batu ketujuh berdiri menyendiri atau seperti menjadi penjaga dari enam batu lainnya, seolah-olah mengamati mereka dari jauh.

Ditambah lagi, situs Manpupuner ini terletak di lokasi yang sulit dijangkau, sampai ke kaki mereka saja sudah cukup menantang. Lingkungan yang keras dari situs misterius ini ditambah badai salju yang selalu mengamuk di musim dingin, cukup mengurungkan niat para pelancong yang kurang punya keberanian diatas rata-rata.


Pendek kata, bagi mereka yang berani mendaki elemen dari pegunungan Ural bagian utara, Manpupuner adalah hadiah spektakuler yang menunggu. Wisatawan yang berkunjung kesana dapat menikmati pemandangan dunia yang sama sekali berbeda dan merasakan bagaimana rasanya berjalan di antara para 'Raksasa'.


Sumber Referensi:
http://www.apakabardunia.com/2014/12/7-strong-men-keajaiban-7-batu-raksasa.html

Kain Kuno Ini Mengandung "Pewarna Suci"

Sejauh ini tiga helai kain yang ditemukan mengandung pewarna suci yang dikenal dengan nama tekhelet itu.

pewarna suci,kain,kuno,alkitabIlmuwan menemukan kain kuno dengan pewarna suci yang tertulis di Alkitab. Kain ini baru merupakan kain ketiga yang ditemukan mengandung pewarna suci itu. (Foto: Israel Antiquities Authority)
Ilmuwan menemukan kain kuno berusia 2.000 tahun yang diwarnai dengan "pewarna biru suci" seperti yang ditulis dan dideskripsikan dalam Alkitab.

Sejauh ini, baru tiga helai kain yang ditemukan mengandung pewarna suci yang dikenal dengan nama tekhelet itu.

Penemuan tersebut diumumkan di sebuah konferensi pers yang digelar di Yerusalem, pada Senin (30/12) lalu. Konferensi pers digelar sekaligus dalam rangka memperingati 100 tahun publikasi tentang tekhelet oleh pemuka Yahudi, Rabbi Yitzchak Halevi Herzog.

Ialah Na'ama Sukenik, kurator di Israel Antiquity Authority, yang mengonfirmasi bahwa kain kuno itu mengandung pewarna suci.

Kain kuno tersebut ditemukan pada tahun 1950-an di gua Wadi Murba'at, goa di mana para pejuang Yahudi bersembunyi dari pemberontakan Bar Kokhba pada abad ke-2. Sukenik percaya bahwa kain kuno itu juga merupakan milik para pejuang Yahudi yang hidup pada masa tersebut.

Sukenik menganalisis kain tersebut sebagai bagian dari riset program doktoralnya. Hasil riset mengungkap bahwa kain memakai pewarna biru suci dan diproduksi di wilayah setempat.

Pewarna biru suci merupakan pewarna alami yang bersumber dari cairan yang dihasilkan oleh spesies siput Murex trunchular. Dalam kitab Talmud, siput itu disebut "khizalon".

Cairan yang dihasilkan oleh siput murex itu sebenarnya berwarna kuning. Namun, ketika terekspos oleh matahari, warna cairan berubah menjadi biru. Di masa lalu, pewarna biru suci dimanfaatkan untuk mewarnai bagian rumbai atau "tzitzit" kain tradisional pria yang juga dipakai oleh para pemuka agama.

Baruch Sterman, fisikawan dan ahli pewarna siput yang juga menulis bukuThe Rarest Blue mengatakan, "Saya pikir ini temuan menarik."
Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/01/kain-kuno-ini-mengandung-pewarna-suci-yang-tertulis-di-alkitab

Tsunami Dahsyat 2004 Mengungkap Misteri "Seven Pagodas" yang Telah Lama Hilang

Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan "Seven Pagodas" atau Tujuh Pagoda sebagian besar hanyalah legenda semata. 

Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi. 


Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul "Candi-Candi di India Selatan", bahwa "Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , 'The Seven Pagodas' adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan".

Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut. 

Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai. 

Tata letak dinding tersebut mengisyaratkan bahwa mereka adalah dinding dari beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut. 

Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak, dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.


Sesaat sebelum tsunami

Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter. 

Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini, melihat barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air. 

Setelah tsunami itu pergi, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad-abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.

Candi yang terendam di Mahabalipuram


Setelah Tsunami

Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum tsunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini. 

Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh tsunami.

Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.


Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das). 

Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter. 

ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak atau belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram. 




Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan.

Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam. 

Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.


Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami. 

Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasasti tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain.

Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun. 

Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava sehingga menghancurkan kuil tua.



Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004.
Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs ini. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami. 

Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs.

Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.
Sumber Referensi:
http://www.apakabardunia.com/2013/12/tsunami-dahsyat-2004-mengungkap-misteri.html

Mengulik Teka Teki Candi Borobudur

Sebagai Bangsa Indonesia, setiap kita tentu pernah mendengar tentang kemegahan Candi Borobudur bukan?! Atau bahkan kita juga sudah pernah melihat langsung keagungan candi ini dari dekat.

Candi Borobudur
Ya, Borobudur adalah candi terbesar yang dimiliki oleh bangsa kita. Diatas tanah dengan luas lokasi 15.000 meter persegi berdiri kokoh susunan batu berundak 10 tingkat setinggi 42 meter. Total volume batu andesit yang digunakan untuk membentuk susunan ini sebanyak 55.000 meter kubik. Pada dinding candi juga terukir 1300 gambar relief cerita Buddha dan Mahabarata. Bila relief-relief ini disusun memanjang berurutan maka panjangnya mencapai 2,5 kilometer. Wow! Sungguh sebuah karya seni yang mahabesar. Oleh para arkeolog, Borobudur diperkirakan dibangun sekitar tahun 800 masehi oleh Wangsa Syailendra. Karena keagungan dan kemegahannya inilah Borobudur menjadi pusat ziarah Agama Buddha yang terbesar se-Asia sekitar tahun 900 sampai tahun 1000 masehi. Bagaimana ya cara nenek moyang kita membuat relief dan susunan batu sebesar itu? Pada jaman itu tentunya belum ada truk dan alat angkut untuk membantu mengangkut batu-batu dari sungai, mereka harus melakukannya sendiri atau paling tidak dibantu oleh kuda.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Astronomi ITB dan langitselatan akan menambah kekaguman kita terhadap Candi Borobudur. Perhatikan baik-baik ya, stupa utama Candi Borobudur ternyata mempunyai fungsi sebagai sebuah penanda waktu.
Nenek moyang Bangsa Indonesia sejak jaman dahulu menggunakan rasi bintang di langit sebagai penanda waktu misalnya, masyarakat Jawa Tengah mengamati rasi bintang Orion hingga terbit dengan ketinggian tertentu untuk menentukan awal masa bercocok tanam. Astronomi bukanlah pengetahuan yang mengawang-awang bagi nenek moyang kita, mereka mengamati gerak bintang, matahari dan bulan sebagai penanda waktu.

Relief Bulan, 7 lingkaran kecil sebagai bintang dan matahari di dinding candi. Seperti gambaran sebuah rasi bintang.
Borobudur bisa saja merupakan sebuah monumen astronomi yang merekam semua gerak langit di jaman itu. Untuk membuktikannya kita harus membongkar teka-tekinya terlebih dahulu. Hipotesa bermula dari bentuk candi yang cukup unik. Bila diamati dari langit, bentuknya simetris. Lantai 1 sampai 7 berbentuk persegi sama sisi sedangkan lantai 8 sampai 10 berbentuk lingkaran dengan pusatnya sebuah stupa utama dengan total tinggi 20 meter dan diameter 17 meter. Stupa utama ini memiliki posisi yang unik, berada di pusat lingkaran stupa – stupa kecil. Dari bentuk candi yang simetris inilah (seperti sebuah jam) akhirnya menimbulkan hipotesa bahwa stupa utama candi mempunyai fungsi sebagai sebuah penanda waktu.
Penanda waktu mula-mula yang digunakan oleh manusia adalah gomon atau jam matahari. Sistemnya sangat sederhana, hanya sebuah tongkat yang diletakkan vertikal diatas tanah. Dengan mengamati panjang bayangan tongkat setiap waktu maka dapat digambarkan sebuah pola bayangan tongkat. Nah, pola bayangan tongkat inilah yang digunakan manusia purba untuk menandai waktu.

Stupa Utama Candi BOrobudur.
Untuk menguji kebenaran hipotesa, tim peneliti melakukan pengamatan di Candi Borobudur. Diamati pola bayangan stupa utama ketika matahari berada di titik Vernal Equinox (titik perpotongan bidang ekuator langit dan bidang ekliptika) yaitu 19 sampai 20 maret. Waktu ini dianggap istimewa karena pada hari itu matahari akan terbit dan terbenam di arah timur dan barat benar (east true & west true). Dengan berbekal data pengamatan ini dibuat sebuah model bayangan stupa utama setiap hari dalam satu tahun dan dikoreksi terhadap kesalahan pengukuran dan pengamatan. Hasilnya bayangan stupa utama membuat pola yang khas yang jatuh pada stupa kecil tertentu disekitarnya. Contoh penerapannya secara praktis seperti ini, kalau kita melihat bayangan stupa utama jatuh pada stupa 1 di tingkat 8 maka saat itu merupakan waktu bertanam (misalnya saja). Hasil ini membuktikan Candi Borobudur adalah sebuah jam raksasa di tahun 800, menarik bukan?!


Bayangan stupa utama dalam satu tahun. mekanisme jam raksasa.
Penemuan ini tentunya masih harus disesuaikan terhadap banyak faktor, misalnya faktor goncangan tektonik yang membuat posisi stupa candi menjadi bergeser sehingga jatuhnya bayangan tidak akurat lagi. Selain itu juga belum diketahui mekanisme penanda waktu yang digunakan oleh masyarakat di jaman pembangunan Borobudur, sehingga kita belum tahu secara pasti stupa-stupa yang dianggap penting dan yang digunakan sebagai pertanda. Satu hal yang pasti, nenek moyang Bangsa Indonesia sudah mengenal astronomi dengan baik dan menerapkannya untuk membantu keseharian hidupnya. Astronomi bukan hanya mengenai bintang yang jauh di langit dan sulit untuk kita jangkau melainkan astronomi bisa menjadi sedekat waktu yang tiap detik 

Sumber Referensi:
http://langitselatan.com/2012/08/02/mengulik-teka-teki-candi-borobudur/

Lebih dari 1.000 Tahun Lalu, Ayah Mempersembahkan Anaknya untuk Para Dewa

Sang anak kemungkinan dikubur dalam keadaan hidup setelah kematian mumi dewasa.

mumi,peruBersama mumi, ditemukan sejumlah benda lain, diduga sebagai persembahan bagi para dewa. (bbc.co.uk/indonesia)
Arkeolog di Peru menemukan dua mumi berusia lebih dari 1.000 tahun di daerah pinggiran ibu kota Lima. Mumi--yang terdiri dari satu dewasa dan anak-anak--ditemukan di sebuah kompleks tempat peribadatan kuno yang telah digali sejak 1981.
Sang anak diyakini dipersembahkan kepada dewa-dewa, dan kemungkinan dikubur dalam keadaan hidup setelah kematian mumi dewasa. Peneliti juga menemukan sejumlah benda lain yang merupakan persembahan bagi dewa, termasuk hewan sejenis marmut dan kendi yang berbentuk seperti kucing.
"Penemuan benda-benda ini sangat penting dalam penggalian yang telah dilakukan selama tiga dekade, karena mumi dalam kondisi utuh," kata peneliti Gladys Paz kepada kantor berita AFP. Kedua mumi berada dalam posisi jongkok dan seluruh tubuhnya dibungkus selendang.
Penemuan ketiga
Penemuan mumi dalam kondisi utuh ini merupakan yang ketiga kalinya di kompleks permakaman Huaca Pucllana. Para peneliti telah menggali lebih dari 70 kuburan di sebuah bangunan berbentuk piramida--seperti kuil yang dibangun sebelum zaman kebudayaan Wari, antara 100 dan 600 tahun sebelum masehi. Wilayah itu sekarang berada di distrik Miraflores.
Pada 2010, para arkeolog menemukan jenazah seorang perempuan dengan empat anak, dan pada 2008 ditemukan mayat seorang remaja perempuan. Situs itu dibangun di lahan seluas 2,5 hektare dan memiliki menara setinggi 20 meter. Sampai saat ini, baru 40% yang telah digali para peneliti.
Menurut catatan, kebudayaan Wari menyebar di wilayah utara Peru pada 500 sampai 1.000 tahun sebelum masehi. Keberadaan mereka sangat sedikit diketahui karena tak meninggalkan jejak tertulis.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/lebih-dari-1000-tahun-lalu-ayah-mempersembahkan-anaknya-untuk-para-dewa.

Ada Missing Link antara Simpanse dan Manusia Modern

Manusia modern non-Afrika mewarisi antara dua hingga empat persen DNA Neandertal.

neanderthal,fosil,nenek moyangPerbandingan anatomi manusia Neanderthal dengan manusia modern (Joe McNally, National Geographic)
"Pertanyaan akan asal-usul manusia selalu menjadi debat yang menarik," ujar Herawati Sudoyo, Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta.
Herawati menyampaikan hal itu di hadapan peserta yang hadir dalam Seminar "Human Evolution and Archaic Admixture", di Lembaga Eijkman pada Selasa (29/10), untuk menyimak presentasi Richard Edward Green, seorang peneliti asal Department of Biomolecular Engineering, University of California-Santa Cruz mengenai penemuan terkini dan rencana kolaborasi penelitian lanjutan dengan Lembaga Eijkman.
Bersama 56 peneliti lain dari 21 institusi, ia merunut jejak leluhur manusia modern (Homo sapiens) berdasarkan genetika. Benarkah ada keterkaitan antara manusia modern yang hidup pada masa kini dengan manusia prasejarah Homo neanderthalensis?
"Memahami evolusi manusia tak sederhana. Jikalau menilik, melacak balik ke garis keturunan, manusia prasejarah Neandertal merupakan kerabat terdekat kita Homo sapiens," papar Green.
Menurut Green, ada missing link untuk melihat relasi antara simpanse (yang dikatakan kerabat terdekat manusia yang masih eksis hingga sekarang) dengan spesies manusia modern. Ini menjadi sulit diterangkan, sebab tidak sedikit spesies yang sudah punah. "Tapi yang secara luas ahli-ahli sepakati, kerabat terdekat manusia—yang telah mengalami kepunahan— adalah Neandertal," kata asisten profesor yang mendalami bidang populasi dan demografi ini.
Maka DNA dari fosil-fosil Neandertal lebih dekat untuk digunakan membantu mereka mengidentifikasi keunikan-keunikan manusia modern ketimbang dari DNA simpanse.
Selama dua dekade terakhir, metode pengambilan DNA purbakala pun telah berkembang maju. Perkembangan ilmu biologi molekuler di bidang teknologi terapan sekuensing DNA sudah bisa makin memudahkan penelitian. Melalui teknologi mutakhir yang disebut direct high-throughput sequencing, didapat data genomik fosil tulang Neandertal.
Ia mengungkapkan, "Kami menganalisis fosil yang ditemukan di Vindija, Kroasia. Dari total 21 tulang Neandertal, hasilnya ada DNA primata walau dalam presentase kecil 3,5 persen, tetapi sebagian besar sampel DNA memang merupakan mikroorganisme, jelas karena terkubur lama dalam gua."
Bukti kedua yaitu fosil yang ditemukan di gua Denisova, Pegunungan Althai, Siberia. Populasi manusia purba the Denisovan ini pun menunjukkan percampuran antara manusia modern dengan manusia purba Neandertal.
Lebih kontroversial, belulang the Denisovans menunjukkan terdapat bagian DNA yang punya kemiripan dengan DNA yang ditemukan pada populasi manusia di wilayah di sebelah timur garis Wallacea—Filipina, Flores, Maluka, Papua Nugini, Australia dan Oseania.
neanderthal,manusia purba,evolusi manusia,nenek moyang manusiaIlustrasi manusia Neanderthal. Dianggap sebagai saudara paling dekat dalam garis evolusi manusia yang hidup di Bumi 24.000 tahun lalu. Neanderthal ditemukan di Eropa, Asia Tengah, dan Asia Barat.(thinkstockphoto)
"Ini mengejutkan. Kecocokan hanya ditemukan pada orang-orang yang berada di timur garis Wallacea. Juga memancing pertanyaan baru soal kaitannya dengan Homo floresiensis, manusia purba yang ditemukan di Liang Bua, Flores." (Baca mengenai si "Hobbit" di Tautan Ini)
Homo neanderthalensis hidup di Eropa dan sebagian kecil kawasan Asia Barat sebelum lenyap 30.000 tahun silam. Ratusan tahun silam diperkirakan nenek moyang Homo sapiens mulai melakukan migrasi, keluar dari Afrika menuju wilayah Eropa dan Asia, bertemu dan berinteraksi hingga mengalamiadmixture (percampuran) dengan Neandertal.
Pertanyaan besar lainnya adalah kapan manusia berpisah dari Neandertal dan bermigrasi. Rentang waktu penyebaran ini diyakini juga menentukan saat untuk kedua kelompok saling bertukar gen. Tersisa pula pertanyaan apa yang sesungguhnya menyebabkan Neandertal punah—dari sekian banyak teori dan gagasan?
Ed juga menelaah, guna analisis lebih lanjut, lewat membandingkan susunan gen dari ras dari manusia modern non-Afrika dan Afrika. Perbandingan antara populasi di Prancis, suku Han, dan Papua di luar Afrika, serta suku Yoruba dan San di Afrika, memperlihatkan kontribusi genetik Neandertal sekitar 2-4 persen dapat ditemukan pada gen manusia sekarang non-Afrika atau, secara spesifik, orang Eurasia.
"Selain itu juga, bukti percampuran manusia purba disinyalir pada populasi pigmi di Afrika. Berbagai temuan ini menggambarkan betapa kompleksnya evolusi manusia modern, yang melibatkan sejumlah kejadian percampuran dengan manusia purba," ujar Ed.
Tentunya belum berakhir perjalanan melacak jejak moyang manusia modern. Lantas berapa banyak lagi kepingan yang masih belum terkumpul? Peneliti takkan berhenti melacak dan tidak putus-putusnya mencari bukti penguat.
Ed sendiri mengatakan, ia akan melakukan investigasi lebih mendalam tentang apa yang membuat manusia modern unik. "Karena saya berpikir; pada suatu waktu di masa lalu, kita pernah berbagi Bumi dengan spesies hominin lain, yang mungkin berasal dari leluhur yang sama. Bagaimanakah kita saling berinteraksi?"

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/terus-melacak-jejak-leluhur-manusia.

Langkanya Makanan Sebabkan Manusia Flores Menjadi "Hobbit"

Dalam teori terbaru ini disebutkan bahwa manusia katai Flores ini merupakan keturunan Homo erectus

orang kerdi,flores,homo floresiensisPerbandingan tengkorak orang kerdil dari Flores (Homo floresiensis) (kiri) dengan Homo sapiens. Dalam hal ukuran, tengkorak Homo floresiensis sebesar tengkorak anak usia tiga tahun pada manusia modern. (Peter Brown/Nature/National Geographic News).
Sekelompok peneliti Jepang melontarkan teori baru mengenai manusia katai Flores (Homo floresiensis), Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitian yang mereka paparkan dalam jurnalProceedings of the Royal Society B, mereka menyatakan para "hobbit" ini masih keturunan dari Homo erectus.
Tubuh Homo erectus yang besar, akhirnya mengecil karena menyesuaikan dengan sumber makanan yang sedikit. "Berlawanan dengan perkiraan peneliti lain, ada kemungkinan bahwa tubuh besar dari Homo erectus Jawa yang bermigrasi ke pulau terpencil, akhirnya berevolusi menjadi Homo floresiensis," ujar pemimpin penelitian Yousuke Kaifu dari National Museum of Nature and Science, Tokyo, Jepang, Selasa (16/4).
Kesimpulan para peneliti Jepang ini bertentangan dengan beberapa kesimpulan hasil studi lain. Studi awal menyebut bahwa manusia katai ini merupakan keturunan Homo habilis. Tapi teori ini patah karena beberapa kritikus menyebut tidak pernah ada bukti manusia ini sampai ke Asia.
orang kerdil,flores,homo floresiensisIlustrasi manusia Homo floresiensis yang berdasarkan temuan rangka hanya setinggi anak usia tiga tahun manusia modern. (Peter Schouten/National Geographic)
Studi berikutnya menyebut bahwa para "hobbit" ini adalah Homo sapiens yang mengidap kelainan saraf akibat kekurangan iodin dalam asupan makanan. Ini menyebabkan otak manusia Flores relatif kecil. Tapi lagi-lagi teori ini runtuh karena "hobbit" cukup cerdas untuk membunuh hewan, menggunakan api, dan alat lain untuk menyajikan makanan.
"Hobbit" merujuk pada tokoh mungil ciptaan J.R.R. Tolkien yang terbit dalam bentuk buku dan film. Manusia katai Flores sendiri memiliki tinggi sekitar satu meter dan bobot hanya 25 kilogram.
Dalam edisi perdana National Geographic Indonesia, April 2005, disebutkan bahwa Thomas Sutikna dari Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas), yakin Homo floresiensis adalah spesies baru. Pendapatnya disokong oleh paleontolog Peter Brown.
"Dari hanya melihat tulang rahangnya selama 60 detik saja, saya sudah tahu bahwa (spesies) ini adalah sesuatu yang baru," ujar Brown saat itu.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/langkanya-makanan-sebabkan-manusia-flores-menjadi-hobbit

Apakah Leluhur Manusia Modern Pernah Kawin dengan Neandertal?

Sejak 1990-an, para ahli percaya bahwa Neandertal terakhir mengungsi di Semenanjung Spanyol dan akhirnya punah sekitar 30.000 tahun silam.

neandertal,spanyolFosil tengkorak manusia Neanderthal yang ditemukan di selatan Spanyol (SPL/BBC Indonesia)
Sebuah temuan baru meragukan teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang manusia modern telah melakukan perkawinan silang dengan manusia Neandertal selama ribuan tahun.
Para ilmuwan meneliti usia fosil Neandertal di dua lokasi di Spanyol bagian selatan dan menyimpulkan mereka jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.
Dengan kata lain, demikian temuan baru ini, tidak mungkin manusia Neandertal dan manusia modern pernah hidup bersama di wilayah tersebut, demikian laporan wartawan sains kantor berita AP, John von Radowitz.
Menurut para peneliti, kemungkinan besar Neandertal telah lama meninggalkan kawasan tersebut sebelum kedatangan Homo sapiens (manusia modern) pertama.
Sejak 1990-an, para ahli percaya bahwa Neandertal terakhir mengungsi di Semenanjung Spanyol dan akhirnya punah sekitar 30.000 tahun yang lalu.
Pernah kawin?
Sejumlah analisa selama ini menyebutkan pula bahwa sebagian DNA manusia Neandertal telah bercampur manusia modern melalui perkawinan.
Hal ini didasarkan hipotesa bahwa manusia modern menguasai kawasan yang ditempati orang-orang Neanderthal 10.000 tahun sebelumnya.
Tetapi penelitian terbaru, yang menggunakan metode penanggalan menunjukkan, manusia Neandertal menguasai Spanyol hanya berlangsung sampai sekitar 45.000 sampai 50.000 tahun lalu.
Sebelumnya, sebagian ahli yakin jejak DNA Neanderthal dapat ditemukan pada manusia modern yang hidup saat ini, terutama orang Eropa.
Walaupun masih diperdebatkan, beberapa ahli percaya bahwa tautan genetik itu terjadi karena Neandertal dan manusia modern memiliki nenek moyang yang barangkali telah tinggal di Afrika Utara.
Keduanya diduga pindah ke Eurasia dari Afrika, tetapi pada waktu yang berbeda.

Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/apakah-leluhur-manusia-modern-pernah-kawin-dengan-neandertal.

Leluhur yang Hilang

Leluhur yang Hilang


DNA dari sebuah gua di Rusia menambah anggota baru dalam keluarga manusia.

OLEH JAMIE SHREEVE 
FOTO OLEH ROBERT CLARK
Di Pegunungan Altay di bagian selatan Siberia, sekitar 350 kilometer dari titik persentuhan Rusia dengan Mongolia, Cina, dan Kazakhstan, terdapat sebuah gua bernama Denisova. Sudah sejak lama tempat itu menarik pengunjung.

Manusia Neolitik, dan kemudian para pastoralis, menggunakan gua itu sebagai tempat berteduh,
mengumpulkan hewan gembalaan mereka di sekitar gua selama musim dingin. Karena mereka, para ahli arkeologi yang bekerja di Denisova saat ini­—dikelilingi oleh dinding gua yang dipenuhi grafiti baru—harus meng­gali lapisan dalam kotoran kambing untuk mem­peroleh deposit yang terkandung di dalamnya.

Tetapi, bilik utama gua memiliki langit-langit tinggi melengkung. Ada lubang di dekat puncaknya, yang memungkinkan berkas sinar matahari menerobos langsung ke dalam gua, sehingga tempat itu seakan-akan sesakral gereja.

Di bagian belakang gua terdapat sebuah bilik yang lebih kecil. Pada Juli 2008, seorang ahli arkeologi muda dari Rusia bernama Alexander Tsybankov menggali di sana. Dia men­cari depo­sit yang dipercaya telah berusia sekitar 30.000 sampai 50.000 tahun, dan menemukan secuil tulang: sepotong serpihan dengan pinggiran bergerigi seukuran kerikil, yang bisa dengan mudah terlumat oleh ujung sepatu.

Selanjutnya, seorang ahli paleoantropologi yang saya temui di Denisova menggambarkan tulang tersebut sebagai “fosil paling spektakuler yang pernah saya lihat. Saking spektakulernya, ini membuat depresi.” Tsybankov memungut dan mengantonginya untuk ditunjukkan kepada seorang ahli paleontologi di kamp.

Sang ahli paleontologi mengidentifikasinya sebagai serpihan dari ujung jari primata—ter­utama bagian yang berhadapan dengan sendi ter­akhir kelingking. Karena tidak ada bukti mengenai keberadaan primata selain manusia di Siberia sejak 30.000 hingga 50.000 silam, fosil itu diperkirakan berasal dari semacam manusia.

Dilihat dari persendiannya yang belum tersambung sempurna, manusia tersebut diperkirakan mati muda, barangkali saat berumur delapan tahun. Anatoly Derevianko, ketua penggalian Altay, menduga bahwa tulang itu berasal dari anggota spesies kita sendiri,Homo sapiens.

Artefak-artefak canggih yang hanya bisa dihasilkan oleh manusia modern, termasuk gelang cantik dari permata hijau, sebelumnya telah ditemukan di deposit yang sama. Tetapi, DNA dari fosil yang ditemukan sebelumnya di sebuah gua di dekat sana terbukti berasal dari manusia Neanderthal, sehingga tulang ini kemungkinan juga milik manusia Neanderthal.

Derevianko memutuskan untuk membelah tulang itu menjadi dua bagian. Dia mengirim se­tengahnya ke sebuah laboratorium genetika di California. Sejauh ini, dia belum mendengar kabar dari potongan itu lagi. Dia memasukkan setengah sisanya ke dalam amplop dan me­nyerah­kannya langsung kepada Svante Pääbo, seorang ahli genetika evolusioner di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman.

Di sanalah kasus tulang kelingking Denisova mengalami perkembangan yang mengejutkan.
Pääbo, yang berdarah Swedia, adalah ahli DNA purba terkemuka di dunia, terutama di bidang DNA manusia. Pada 1984, dia menjadi orang pertama yang berhasil mengisolasi DNA dari sesosok mumi Mesir. Pada 1997, dia ber­hasil melakukan hal yang sama pada manusia Neanderthal, sejenis manusia yang punah lebih dari 25.000 tahun sebelum firaun Mesir.

Ketika Pääbo menerima paket dari Dere­vianko, timnya tengah bekerja keras untuk meng­ambil rentetan pertama dari keseluruhan genom Neanderthal—tugas lain yang semula tampak mustahil, dan menyedot hampir segenap perhatiannya. Labnya juga menampung fosil-fosil lain dari seluruh bagian dunia untuk diuji. Maka, baru pada akhir 2009 tulang jari mungil dari Rusia itu menarik perhatian Johannes Krause, ketika itu anggota senior tim Pääbo.

Seperti semua orang lainnya, Krause menduga bahwa tulang itu berasal dari awal mula manusia modern. Dia telah mengembangkan metode untuk memisahkan DNA fosil semacam itu dari DNA para arkeolog, pekerja museum, dan siapa pun yang mungkin telah memegang dan menyebabkannya terkontaminasi.

Dari tulang jari itu, Krause dan muridnya Qiaomei Fu mengekstraksi DNA mitokondrial (mtDNA), sekelumit genom yang ratusan kopinya terkandung di dalam sel hidup sehingga lebih mudah ditemukan di dalam tulang purba. Mereka membandingkan sekuen DNA itu dengan milik manusia modern dan manusia Neanderthal. Kemudian mereka mengulangi analisis karena tidak bisa memercayai hasil yang mereka peroleh dari percobaan pertama.

Ketika Pääbo sedang pergi, Krause me­ngumpul­kan semua staf lab dan menantang siapa pun untuk memberikan penjelasan ber­beda atas apa yang sedang dilihatnya. Tidak ada yang bisa. Kemudian dia menghubungi ponsel Pääbo. “Johannes bertanya apakah saya sedang duduk,” Pääbo mengenang. “Saya menjawab tidak, dan dia menyuruh saya mencari kursi.”

Krause sendiri mengingat hari itu sebagai “hari paling mendebarkan di bidang sains dalam hidup saya.” Serpihan kecil tulang jari itu, sepertinya, sama sekali tidak berasal dari manusia modern. Tetapi juga bukan dari manusia Neanderthal. Tulang itu berasal dari ma­nu­sia jenis lainnya, yang tidak pernah ditemukan sebelumnya.

Pada juli 2011, Anatoly Derevianko meng­organisasi sebuah simposium sains di kamp arkeologi yang ter­letak beberapa ratus meter dari Gua Denisova. Derevianko menyambut 50 orang peneliti, termasuk Pääbo, yang hadir untuk berbagi pandangan mereka mengenai bagai­mana manusia baru misterius itu sesuai dengan fosil rekaman arkeologi evolusi manusia di Asia.

Setahun sebelumnya, dua fosil lainnya di­dapati mengandung DNA yang sama dengan tulang jari itu, dan keduanya berwujud gigi geraham. Gigi pertama lebih besar daripada gigi manusia modern atau manusia Neanderthal, dalam ukuran dan bentuk menyerupai gigi anggota genus Homo yang jauh lebih primitif, yang tinggal di Afrika jutaan tahun silam.

Geraham kedua ditemukan pada 2010, di bilik gua yang sama, tempat tulang jari ditemukan—dekat dasar lapisan deposit berumur 30.000-50.000 tahun yang sama, yang dinamai Layer 11. Gigi itu lebih besar daripada yang pertama, dengan permukaan kunyah dua kali lebih lebar daripada tipikal geraham manusia.

Saking besarnya, ahli paleoantropologi dari Max Planck, Bence Viola, salah mengiranya sebagai gigi beruang gua. Baru setelah DNA-nya diuji, dapat dipastikan bahwa gigi itu milik manusia—khususnya Denisova, nama yang diberikan oleh para ilmuwan kepada para leluhur baru itu. “Ini menunjukkan betapa anehnya mereka,” kata Viola kepada saya di simposium. “Paling tidak, gigi mereka aneh sekali.”

Tim Pääbo hanya berhasil mengekstraksi sedikit DNA dari gigi itu—hanya cukup untuk membuktikan bahwa keduanya berasal dari populasi yang sama dengan tulang jari, walaupun bukan dari individu yang sama. Akan tetapi, DNA yang diperoleh dari tulang jari jauh lebih melimpah.

DNA terdegradasi seiring waktu, sehingga biasanya yang tersisa di sepotong tulang berusia puluhan ribu tahun sangatlah sedikit. Terlebih lagi, secara tipikal, DNA dari tulang—yang disebut DNA endogen—hanyalah sebagian kecil dari total DNA dalam sebuah spesimen, yang sebagian besarnya berasal dari bakteri tanah dan berbagai pencemar lainnya.

Tidak satu pun dari fosil manusia Neanderthal yang pernah diuji oleh Pääbo dan rekan-rekannya mengandung lebih dari lima persen DNA endogen, dan sebagian besarnya hanya mengandung kurang dari satu persen. Sungguh menakjubkan bahwa tulang jari itu mengandung 70 persen endogen. Rupanya gua yang bersuhu dingin telah mengawetkannya dengan baik.

Berkat DNA yang melimpah, para ilmuwan dapat dengan mudah memastikan bahwa tidak ada kromosom laki-laki Y di spesimen itu. Ujung jari tersebut berasal dari seorang anak perempuan yang tewas di atau di dekat Gua Denisova puluhan ribu silam. Para ilmu­wan pada awalnya kesulitan mereka-reka wujud­nya—hanya bisa memastikan bahwa dia jauh berbeda dari apa pun yang pernah mereka lihat.

Selama beberapa waktu, mereka juga mengira telah mendapatkan jari kakinya. Pada musim panas 2010, sepotong tulang jari kaki terkuak, bersama sebuah gigi besar, dari Layer 11. Di Leipzig, seorang mahasiswa pascasarjana ber­nama Susanna Sawyer menganalisis DNA-nya.

Di simposium pada 2011, untuk pertama kalinya dia mempresentasikan hasil penelitiannya. Semua orang terkejut ketika mendengar bahwa tulang jari itu ternyata berasal dari manusia Neanderthal, yang mempertebal kabut misteri tempat itu.

Gelang permata hijau yang sebelumnya ditemukan di Layer 11 hampir bisa dipastikan dibuat oleh manusia modern. Tulang jari kaki berasal dari manusia Neanderthal, dan tulang jari tangan berasal dari sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Satu gua, tiga jenis manusia. “Denisova menyimpan keajaiban besar,” kata Pääbo.

“Kita kini mengetahui bahwa manusia Neanderthal, Denisova, dan manusia modern pernah hidup di gua itu.” Pääbo berusia 58 tahun, jangkung dan ramping, bertelinga lebar, ber­kepala lonjong, dan beralis tebal yang naik dan turun saat dia berbicara dengan penuh semangat—tentang Denisova, misalnya.

Bagaimana mungkin ketiga jenis manusia itu berakhir di sana? Apa hubungan antara manusia Neanderthal, Denisova, dan jenis manusia yang ada saat ini? Apakah leluhur mereka ber­hubungan seks dengan jenis kita? Pääbo me­miliki sejarah dengan jenis pertanyaan itu.

DNA Neanderthal yang digelutinya pada 1997 benar-benar berbeda dengan DNA manusia yang kini menghuni Bumi. Itu sepertinya men­­cerminkan bahwa manusia Neanderthal ber­asal dari spesies yang berbeda dari kita, dan kini telah punah—kemungkinan segera setelah leluhur kita pertama kali bermigrasi dari Afrika menuju wilayah Neanderthal di Asia bagian barat dan Eropa. 

Tetapi, DNA itu, seperti yang pertama kali diekstraksi oleh Krause dari jari Denisova, adalah mtDNA: Berasal dari mitokondria, organel penghasil energi di dalam sel, bukan dari nukleus sel, tempat sebagian besar genom kita berada. DNA mitokondria hanya mencakup 37 gen, dan hanya diwarisi dari ibu. Itu adalah rekaman terbatas sejarah populasi, bagaikan satu halaman yang dirobek dari sebuah buku.

Ketika simposium Denisova berlangsung, Pääbo dan para koleganya telah mempublikasi­kan draf pertama dari keseluruhan genom Neander­thal dan Denisova. Membaca lebih banyak halaman lagi memungkinkan Pääbo dan rekan-rekannya—termasuk David Reich di Harvard University dan Montgomery Slatkin di University of California, Berkeley—mengungkap bahwa genom manusia modern sesungguhnya mengandung kode Neanderthal yang berjumlah kecil namun signifikan, rata-rata sekitar 2,5 persen.

Masih ada kemungkinan bahwa manusia Neanderthal terdorong ke ambang kepunahan oleh manusia baru yang aneh, beralis tinggi, yang mengikuti mereka keluar dari Afrika. Tetapi, itu terjadi setelah pem­bauran yang menyisakan sedikit sifat Neanderthal di dalam sebagian besar dari kita, 50.000 tahun kemudian.

Hanya satu kelompok manusia modern yang terbebas dari pengaruh tersebut: manusia Afrika, karena pembauran terjadi di luar benua itu. Walaupun genom Denisova menunjukkan bahwa mereka lebih dekat dengan manusia Neanderthal, mereka ternyata juga meninggal­kan jejak pada diri kita. Tetapi pola geografis­nya janggal.

Ketika membandingkan genom Denisova dengan berbagai macam genom manusia modern, para peneliti tidak menemu­kan jejaknya di Rusia atau sekitar Cina, atau di mana pun—kecuali di genom manusia Nugini, jenis manusia lain dari kepulauan di Melanesia, dan suku Aborigin di Australia. Rata-rata genom mereka mengandung lima persen Denisova. Negrito di Filipina memiliki 2,5 persen.

Setelah menghimpun semua data yang ada, Pääbo dan timnya merumuskan sebuah skenario untuk menjelaskan apa yang mungkin telah terjadi. Pada suatu waktu sebelum 500.000 tahun silam, kemungkinan di Afrika, leluhur manusia modern menyimpang dari garis keturunan yang kemudian memunculkan manusia Neander­thal dan Denisova. (Kemungkinan besar leluhur dari ketiga tipe manusia tersebut adalah spesies bernama Homo heidelbergensis.)

Sementara leluhur kita tetap tinggal di Afrika, leluhur Neanderthal dan Denisova bermigrasi. Keduanya kemudian berpisah, Neanderthal mula-mula bergerak ke barat menuju Eropa, dan Denisova menyebar ke timur, barangkali akhirnya menduduki sebagian besar benua Asia.

Nantinya, ketika manusia modern sendiri keluar dari Afrika, mereka bertemu dengan Neanderthal di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, dan secara terbatas melakukan kawin silang dengan mereka. Menurut bukti yang dipresentasikan oleh David Reich di simposium Denisova, pembauran itu ke­mungkinan besar terjadi sekitar 67.000 hingga 46.000 tahun silam.

Satu populasi manusia modern kemudian melanjutkan perjalanan ke timur menuju Asia Tenggara, dan sekitar 40.000 tahun silam, mereka berjumpa dengan Denisova. Manusia modern kemudian mem­­baur dengan mereka dan bergerak ke Australasia, membawa serta DNA Denisova.

Skenario ini bisa menjelaskan mengapa bukti yang ditemukan sejauh ini mengenai keberadaan Denisova hanyalah tiga fosil dari sebuah gua di Siberia dan kandungan lima persen di dalam genom manusia yang saat ini tinggal ribuan kilometer di tenggara. Namun, masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Jika Denisova menyebar sejauh itu, mengapa tidak ada jejak mereka di genom bangsa Han dari Cina atau pada penduduk Asia lainnya di antara Siberia dan Melanesia? Mengapa mereka tidak meninggalkan jejak dalam rekaman arkeologi—tidak ada peralatan yang mencolok, misalnya? Siapakah mereka sesungguhnya? Seperti apa wujud mereka? “Jelas bahwa kita perlu bekerja lebih keras,” kata Pääbo di simposium Denisova.

Dari semua perkembangan yang ada, yang terbaik mungkin adalah mendapatkan DNA Denisova di tengkorak atau fosil lainnya yang memiliki fitur morfologis menonjol, yang bisa berfungsi sebagai Batu Rosetta untuk memeriksa ulang seluruh rekaman fosil Asia. Ada beberapa kandidat menarik, sebagian besarnya berasal dari Cina, terutama tiga tengkorak yang berasal dari antara 250.000 hingga 100.000 tahun silam.

Sayangnya, DNA tidak terawetkan dengan baik di iklim hangat. Hingga saat ini, belum ada fosil lain yang diidentifikasi sebagai Denisova dengan satu-satunya cara Denisova dapat dikenali, yaitu DNA mereka.

Pada 2012, Tim Pääbo memublikasikan versi baru genom jari tulang. Yang me­nakjubkan, keakuratan dan ke­lengkapannya menyamai susunan genom manusia modern. Terobosan ini di­buat Matthias Meyer, seorang peneliti pascadoktoral di lab Pääbo.

DNA terdiri dari dua pita yang saling menjalin—yang dikenal luas sebagai heliks ganda. Sebelumnya, metoda untuk mem­peroleh DNA dari fosil tulang hanya dapat membaca susunan (genom) jika kedua pita terawetkan. Meyer telah mengembangkan teknik untuk mengambil fragmen pendek dari satu pita DNA, yang sangat menambah jumlah materi mentah untuk ditelaah. 

Metoda ini meng­­hasilkan versi genom anak perempuan Deni­sova yang begitu tepat, sehingga timnya dapat memisahkan masing-masing informasi genetis yang diperolehnya dari ibu dan ayahnya. Hasilnya, mereka kini memiliki dua set genom Denisova yang memiliki akurasi tinggi dari masing-masing orang tua. Perkembangan ini membuka jendela sejarah populasi mereka.

Yang baru-baru ini terungkap adalah kecil­­nya variasi di antara genom orang tua—se­kitar sepertiga dari yang biasanya ter­­dapat pada manusia modern. Pola ini meng­indikasi­kan bahwa populasi Denisova yang di­re­presentasikan oleh fosil itu tidak cukup besar untuk memungkinkan keanekaragaman genetis.

Lebih buruk lagi, populasi mereka sepertinya mengalami penurunan drastis pada suatu masa sebelum 125.000 tahun silam—anak perempuan di gua itu bisa jadi yang terakhir dari jenisnya. “Sungguh luar biasa, karena tidak ada se­orang pun yang berkeliaran dengan sejarah populasi semacam itu sekarang,” ujar Pääbo, menaikkan alisnya.

Setelah memegang setiap abjad dari kode genetis Denisova, Pääbo dan para koleganya dapat membidik salah satu misteri terbesar: Di genom kita, apakah yang menjadikan kita seperti ini? Apakah perubahan menentukan yang terjadi dalam kode genetis setelah kita ter­pisah dari leluhur terakhir kita?

Mengingat bahwa semua manusia modern memiliki banyak persamaan genetis namun pola genom Denisova lebih mirip kera primitif, para peneliti menghasilkan daftar yang ternyata pendek. Pääbo menyebutnya “resep genetis untuk menjadi manusia modern.” Daftar itu mencakup hanya 25 perbedaan yang akan me­ngubah fungsi protein tertentu.

Menariknya, lima dari protein tersebut di­ketahui memengaruhi fungsi otak dan per­kembangan sistem saraf. Yang belum terungkap adalah bagaimana peran gen-gen itu dalam mem­buat kita berpikir, bertindak, atau berbicara dengan cara yang berbeda dari Denisova, atau makhluk lainnya di muka Bumi. Kontribusi jangka panjang dari meneliti DNA Denisova, menurut Pääbo, adalah “mencari apa yang men­jadi­kan manusia eksklusif.”

Tetapi bagaimana dengan anak perempuan itu? Anak perempuan itu telah berubah wujud menjadi “perpustakaan” fragmen DNA yang bisa disalin berulang kali untuk selamanya. Dalam makalah ilmiah yang membahas tentang sejarah populasinya, Pääbo dan timnya menyebutkan, hampir sekilas, beberapa fakta tentangnya yang berhasil mereka korek dari perpustakaan itu: Dia barangkali berambut gelap, bermata gelap, dan berkulit gelap.

Tidak banyak, tetapi paling tidak informasi itu memberikan garis besar mengenai penampilannya. Agar kita tahu kepada siapa kita harus berterima kasih.


Sumber Referensi:
http://nationalgeographic.co.id/feature/2013/01/leluhur-yang-hilang.