Goldilocks dan Tiga Planet

‘Goldilocks dan Tiga Beruang’ adalah dongeng tentang seorang anak yang rewel. Dia tidak suka  buburnya terlalu manis, seperti bayi beruang, ataupun terlalu asin, seperti papa beruang. Dia tidak senang tempat tidurnya terlalu lembut ataupun terlalu keras. Dia menyukai yang sedang-sedang saja, seperti mama beruang: pokoknya yang pas deh.

Ilustrasi Gliese 667C. Kredit: ESO
Karena mirip dengan dongeng itu, kita menyebut daerah di sekeliling bintang, yang bertemperatur ‘pas’ untuk bisa ada air, dengan nama ‘Zona Goldilocks’. Zona ini tidak terlalu dingin yang bisa menyebabkan air membeku, dan juga tidak terlalu panas yang bisa menguapkan air. Keadaan yang demikian cocok untuk adanya kehidupan! Coba lihat gambar kedua. Garis biru menunjukkan Zona Goldilocks di Tata Surya kita. Untuk bintang yang lebih panas, zona tersebut akan berada lebih jauh dari si bintang, sedangkan untuk bintang yang lebih dingin, Zona Goldilocks berada lebih dekat.
Nah, astronom baru saja menemukan sistem keplanetan tetangga Tata Surya yang memecahkan rekor sejarah penemuan planet di luar Tata Surya. Bintang tetangga bernama Gliese 667C mempunyai setidaknya enam planet yang mengorbitnya. Tiga di antara enam planet tersebut duduk dengan nyaman di Zona Goldilocks! Belum pernah ada sebelumnya planet sebanyak ini ditemukan mengorbit bintang yang sama dan juga berpotensi mengandung air. Jika kita bisa menemukan planet ‘Goldilocks’ sebanyak ini di setiap bintang, maka jumkah planet yang kemungkinan dihuni makhluk hidup di galaksi kita jauh lebih banyak daripada yang kita duga. Dan begitu juga dengan kemungkinan menemukan bentuk kehidupan lain!
Fakta menarik : Tiga betul-betul angka ajaib bagi Gliese 667C. Tidak saja mempunyai tiga planet ‘Goldilocks’ mengorbitnya, bintang itu juga anggota dari sistem bintang triple. Kalau saja ada kehidupan di salah satu planet tersebut, mereka akan melihat di angkasa dua bintang lainnya itu sebagaimana kita melihat bulan di langit kita. Kalian bisa melihat ilustrasinya di gambar ini.

Sumber Referensi:
http://langitselatan.com/2013/06/25/goldilocks-dan-tiga-planet/

Rasi Bintang Scorpius Si Kalajengking Pembunuh

Alkisah ada seorang pemburu yang gagah perkasa bernama Orion. Suatu waktu ia pergi ke Pulau Kreta dan menghabiskan waktunya disana dengan berburu, ditemani oleh Dewi Artemis dan Leto.
Scorpio, si rasi kalajengking. kredit : stellarium
Sang pemburu sangat percaya diri akan kemampuan berburunya dan yakin bahwa ia mampu mengalahkan dan membunuh segala macam makhluk buas yang ada di muka Bumi. Mendengar ini, Dewi Bumi, Gaia, pun marah dan sengaja melepaskan seekor kalajengking raksasa, Scorpius, untuk mengalahkan Orion. Scorpius berhasil membunuh Orion dengan sengatan capitnya. Sebagai pelajaran untuk manusia agar tidak berlaku sombong di atas muka Bumi dan atas permintaan Artemis dan Leto, Dewa Zeus menempatkan dua makhluk ini di langit sebagai sebuah kenangan atas apa yang telah terjadi.
Meskipun keduanya hadir dalam kisah mitologi yang sama, tempat Orion dan Scorpius di langit tidak pernah berdekatan. Malahan, letaknya berseberangan. Seiring dengan kemunculan rasi Scorpius di kaki langit dekat horison, rasi Orion pun perlahan mulai tenggelam di kaki langit seberangnya. Konon sengaja ditempatkan demikian untuk menghindari pertarungan lebih lanjut antara keduanya. Demikianlah asal usul rasi Scorpius hadir di langit malam seperti dikisahkan dalam mitologi Yunani.
Rasi Scorpius adalah salah satu rasi bintang yang menonjol di langit selatan dan tergolong ke dalam 12 rasi bintang zodiak. Di antara rasi bintang lainnya, Rasi Scorpius merupakan rasi yang paling jelas merepresentasikan sebutannya: kalajengking. Sangat mudah mengidentifikasi rasi ini karena bentuk melengkungnya yang sangat jelas dan ekor panjangnya yang mengarah ke selatan, ditambah lagi dengan bintang merah terang, Antares, di jantung rasi ini.
Rasi scorpius berbatasan dengan rasi Ophiucus di sebelah utaranya, Rasi Libra dan Lupus di sebelah timurnya, Rasi Ara dan Norma di sebelah selatannya, dan dengan Corona Australis dan Sagittarius serta sedikit lagi Ophiucus di sebelah baratnya.
Untuk pengamat yang tinggal di belahan bumi utara, Scorpius dapat dilihat merangkak melintasi langit selatan dekat horison, dari bulan April hingga September. Untuk pengamat di belahan bumi selatan, Scorpius dapat dilihat tepat di atas langit selatan.
Karakteristik
Dikatakan bahwa rasi ini kaya akan bintang dan gugusan bintang, yang sebagian besar dapat dilihat dengan bantuan teleskop kecil. Tiga bintang paling terang di rasi ini adalah Alpha (a) Scorpii atau yang lebih akrab dengan sebutan Antares, Beta (b) Scorpii atau Grafias, dan Delta (d) Scorpii atau Dschubba. Dari ketiganya, yang paling terkenal dan paling terang tentu saja Antares (oleh sebab itu dinotasikan dengan (a) karena kedudukannya sebagai bintang pertama paling terang di rasi ini).

Antares memiliki magnitudo 0,96 dan dilihat dengan mata telanjang berwarna merah cemerlang. Berjarak sekitar 600 tahun cahaya dari kita, Antares merupakan bintang maharaksasa merah. Sifat khas dari bintang raksasa merah adalah cenderung variabel, artinya intensitas cahaya bintang senantiasa nampak berubah-ubah dengan periode tertentu. Antares memiliki perubahan magnitudo dari 0.9 hingga 1.2. Antares berarti anti-Ares atau anti-Mars. Penamaan ini menunjukkan bahwa warna merah Antares bersaing dengan warna merah Mars. Sebenarnya Antares merupakan bintang ganda, tetapi tanpa bantuan teleskop kita tidak mungkin dapat memisahkan kedua komponennya. Bagi yang memiliki teleskop lebih besar dari 10cm, silahkan menikmati bintang pasangan Antares, nampak hijau pucat jika dibandingkan dengan Antares, dengan magnitudo 5.4 dengan separasi sudut ~3”.
Grafias, berjarak sekitar 530 tahun cahaya, juga merupakan bintang ganda yang memiliki dua komponen bintang yang keduanya berwarna biru, satu memiliki magnitudo 2,8 dan satu lagi memiliki magnitudo 5,4. Dschubba yang bertempat di bagian capit rasi ini, merupakan bintang raksasa biru yang terangnya 1530 kali lebih terang dari Matahari kita. Jaraknya dari kita sekitar 402 tahun cahaya. Beberapa bintang lainnya yang juga dapat dilihat dengan mata telanjang pada rasi ini adalah q Scorpii (Sargas), l Scorpii (Shaula), n Scorpii (Jabbah) yang merupakan sistem bintang majemuk dengan empat komponen, s Scorpii (Alniyat) yang merupakan bintang ganda, t Scorpii (juga Alniyat), dan uScorpii (Lesath). Selain itu, pada rasi Scorpius terdapat juga bintang variabel, yaitu RR Scorpii. Bintang ini memiliki periode yang panjang. Magnitudo visualnya merentang dari 5.0 12.4 setiap 281.45 hari.
Masih banyak obyek lain yang tidak kalah menarik terdapat di rasi ini, terutama obyek Messier seperti gugus bola M4 dan M80, serta gugus bintang terbuka seperti M7 dan M6. M4, yang letaknya berdekatan dengan bintang Antares, merupakan gugus bola yang mudah diidentifikasi karena terangnya dan ukurannya yang besar. Jaraknya sekitar 6.800 tahun cahaya dan memiliki magnitudo 5,9. Meskipun mudah diidentifikasi, masih sulit untuk melihat gugus bola M4 tanpa bantuan teleskop besar.
Gugus bola lainnya, M80, yang berada di sebelah utara rasi ini adalah gugus bola yang yang agak redup dan sangat padat. Diperlukan teleskop yang sangat besar untuk mempelajarinya dengan detil. M80 memiliki magnitudo 7,2 dan berjarak sekitar 26.000 tahun cahaya. Selain gugus bola, terdapat gugus bintang terbuka M7 dan M6. M7 (disebut juga sebagai gugus bintang Ptolemeus) yang berada di bagian selatan rasi ini, dekat Sagittarius, memiliki magnitudo 3,3 dan berjarak sekitar 780 tahun cahaya. M6 yang berdekatan dengan M7 dan sering disebut juga sebagai gugus kupu-kupu, memiliki magnitudo 4,2 dan berjarak sekitar 2000 tahun cahaya.
Setelah mengetahui kisah Scorpius dan obyek-obyek di dalamnya, mudah-mudahan Anda tidak asing lagi jika menengok ke atas dan mendapati kalajengking raksasa di atas kepala Anda pada waktu-waktu ini. Bulan Juli merupakan waktu yang sangat baik untuk melihat Scorpius. Scorpius dapat dilihat jelas di langit untuk pengamat yang tinggal di lintang +40° hingga -90°. Selamat berkenalan dengan Scorpius!

Sumber Referensi:
http://langitselatan.com/2007/07/08/scorpius-si-kalajengking-pembunuh/

Masa Depan Bumi Saat Matahari Berevolusi

Perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi salah satu efek yang sangat signifikan dalam perubahan kondisi Bumi selama beberapa dekade dan abad ke depan. Namun, bagaimana dengan nasib Bumi jika terjadi pemanasan bertahap saat Matahari menuju masa akhir hidupnya sebagai bintang katai putih? Akankah Bumi bertahan, ataukah masa tersebut akan menjadi masa akhir kehidupan Bumi?

Bintang Raksasa Merah. Impresi artis. source : Universetoday
Milyaran tahun lagi, Matahari akan mengembang menjadi bintang raksasa merah. Saat itu, ia akan membesar dan menelan orbit Bumi. Akankah Bumi ditelan oleh Matahari seperti halnya Venus dan Merkurius? Pertanyaan ini telah menjadi diskusi panjang di kalangan astronom. Akankah kehidupan di Bumi tetap ada saat matahari menjadi Katai Putih?
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan K.-P. Schr¨oder dan Robert Connon Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah, ekuatornya bahkan sudah melebihi jarak Mars. Dengan demikian, seluruh planet dalam di Tata Surya akan ditelan olehnya. Akan tiba saatnya ketika peningkatan fluks Matahari juga meningkatkan temperatur rata-rata di Bumi sampai pada level yang tidak memungkinkan mekanisme biologi dan mekanisme lainnya tahan terhadap kondisi tersebut.
Saat Matahari memasuki tahap akhir evolusi kehidupannya, ia akan mengalami kehilangan massa yang besar melalui angin bintang. Dan saat Matahari bertumbuh (membesar dalam ukuran), ia akan kehilangan massa sehingga planet-planet yang mengitarinya bergerak spiral keluar. Lagi-lagi pertanyaannya bagaimana dengan Bumi? Akankah Matahari yang sedang mengembang itu mengambil alih planet-planet yang bergerak spiral, atau akankah Bumi dan bahkan Venus bisa lolos dari cengkeramannya?
Perhitungan yang dilakukan oleh K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith menunjukan, saat Matahari menjadi bintang raksasa merah di usianya yang ke 7,59 milyar tahun, ia akan mulai mengalami kehilangan massa. Matahari pada saat itu akan mengembang dan memiliki radius 256 kali radiusnya saat ini dan massanya akan tereduksi sampai 67% dari massanya sekarang. Saat mengembang, Matahari akan menyapu Tata Surya bagian dalam dengan sangat cepat, hanya dalam 5 juta tahun. Setelah itu ia akan langsung masuk pada tahap pembakaran helium yang juga akan berlangsung dengan sangat cepat, hanya sekitar 130 juta tahun. Matahari akan terus membesar melampaui orbit Merkurius dan kemudian Venus. Nah, pada saat Matahari akan mendekati Bumi, ia akan kehilangan massa 4.9 x 1020 ton setiap tahunnya (setara dengan 8% massa Bumi).
Perjalanan evolusi Matahari sejak lahir sampai menjadi bintang katai putih.
Setelah mencapai tahap akhir sebagai raksasa merah, Matahari akan menghamburkan selubungnya dan inti Matahari akan menyusut menjadi objek seukuran Bumi yang mengandung setengah massa yang pernah dimiliki Matahari. Saat itu, Matahari sudah menjadi bintang katai putih. Bintang kompak ini pada awalnya sangat panas dengan temperatur lebih dari 100 ribu derajat namun tanpa energi nuklir, dan ia akan mendingin dengan berlalunya waktu seiring dengan sisa planet dan asteroid yang masih mengelilinginya.
Zona Laik Huni yang Baru
Saat ini Bumi berada di dalam zona habitasi / laik huni dalam Tata Surya. Zona laik huni atau habitasi merupakan area di dekat bintang di mana planet yang berada di situ memiliki air berbentuk cair di permukaannya dengan temperatur rata-rata yang mendukung adanya kehidupan. Dalam perhitungan yang dilakukan Schroder dan Smith, temperatur planet tersebut bisa menjadi sangat ekstrim dan tidak nyaman untuk kehidupan, namun syarat utama zona habitasinya adalah keberadaan air yang cair.
Terbitnya bintang raksasa merah. Impresi artis. Sumber: Jeff Bryant's Space Art.
Tak dapat dipungkiri, saat Matahari jadi Raksasa Merah, zona habitasi akan lenyap dengan cepat. Saat Matahari melampaui orbit Bumi dalam beberapa juta tahun, ia akan menguapkan lautan di Bumi dan radiasi Matahari akan memusnahkan hidrogen dari air. Saat itu Bumi tidak lagi memiliki lautan. Tetapi, suatu saat nanti, ia akan mencair kembali. Nah saat Bumi tidak lagi berada dalam area habitasi, lantas bagaimana dengan kehidupan di dalamnya? Akankah mereka bertahan atau mungkin beradaptasi dengan kondisi yang baru tersebut? Atau itulah akhir dari perjalanan kehidupan di planet Bumi?
Yang menarik, meskipun Bumi tak lagi berada dalam zona habitasi, planet-planet lain di luar Bumi akan masuk dalam zona habitasi baru milik Matahari dan mereka akan berubah menjadi planet layak huni. Zona habitasi yang baru dari Matahari akan berada pada kisaran 49,4 SA – 71,4 SA. Ini berarti areanya akan meliputi juga area Sabuk Kuiper, dan dunia es yang ada disana saat ini akan meleleh. Dengan demikian objek-objek disekitar Pluto yang tadinya mengandung es sekarang justru memiliki air dalam bentuk cairan yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan. Bahkan bisa jadi Eris akan menumbuhkan kehidupan baru dan menjadi rumah yang baru bagi kehidupan.
Bagaimana dengan Bumi?
Apakah ini akhir perjalanan planet Bumi? Ataukah Bumi akan selamat? Berdasarkan perhitungan Schroder dan Smith Bumi tidak akan bisa menyelamatkan diri. Bahkan meskipun Bumi memperluas orbitnya 50% dari orbit yang sekarang ia tetap tidak memiliki pluang untuk selamat. Matahari yang sedang mengembang akan menelan Bumi sebelum ia mencapai batas akhir masa sebagai raksasa merah. Setelah menelan Bumi, Matahari akan mengembang 0,25 SA lagi dan masih memiliki waktu 500 ribu tahun untuk terus bertumbuh.
Matahari yang menjadi raksasa merah akan mengisi langit seperti yang tampak dari bumi. Gambar ini menunjukan topografi Bumi yang sudah meleleh menjadi lava. Tampak siluet bulan dengan latar raksasa merah. Copyright William K. Hartmann
Saat Bumi ditelan, ia akan masuk ke dalam atmosfer Matahari. Pada saat itu Bumi akan mengalami tabrakan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan menyusut dan ia akan bergerak spiral kedalam. Itulah akhir dari kisah perjalanan Bumi.
Sedikit berandai-andai, bagaimana menyelamatkan Bumi? Jika Bumi berada pada jarak 1.15 SA (saat ini 1 SA) maka ia akan dapat selamat dari fasa pengembangan Matahari tersebut. Nah bagaimana bisa membawa Bumi ke posisi itu?? Meskipun terlihat seperti kisah fiksi ilmiah, namun Schroder dan Smith menyarankan agar teknologi masa depan dapat mencari cara untuk menambah kecepatan Bumi agar bisa bergerak spiral keluar dari Matahari menuju titik selamat tersebut.
Yang menarik untuk dikaji adalah, umat manusia seringkali gemar berbicara tentang masa depan Bumi milyaran tahun ke depan, padahal di depan mata, kerusakan itu sudah mulai terjadi. Bumi saat ini sudah mengalami kerusakan awal akibat ulah manusia, dan hal ini akan terus terjadi. Bisa jadi akhir perjalanan Bumi bukan disebabkan oleh evolusi matahari, tapi oleh ulah manusia itu sendiri. Tapi bisa jadi juga manusia akan menemukan caranya sendiri untuk lolos dari situasi terburuk yang akan dihadapi



Sumber Referensi:
http://langitselatan.com/2008/02/03/masa-depan-bumi-saat-matahari-berevolusi/

ALMA Melihat Kelahiran Bayi Bintang di Alam Semesta Dini

Bertepatan dengan diresmikannya Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), serangkaian hasil pengamatan dari teleskop radio raksasa di Gurun Atacama, Chili ini juga dirilis di jurnal Nature 14 Maret 2013 dan Astrophysical Journal.
Montase yang menggabungkan citra dari ALMA dan Teleskop Hubble NASA/ESA untuk 5 galaksi jauh. Citra ALMA direpresentasikan dengan warna merah menunjukkan galaksi jauh, dimana galaksi latar belakang mengalami distorsi oleh efek lensa gravitasi yang dihasilkan galaksi latar depan yang diwakili oleh data Hubble yang berwarna bitu. Galaksi latar belakang tampak melengkung membentuk cincin cahaya. Kredit: ALMA (ESO/NRAO/NAOJ), J. Vieira et al.


Kelahiran Bintang
Ledakan besar kelahiran bintang-bintang di alam semesta diyakini terjadi di alam semesta dini, di dalam galaksi terang yang sangat masif. Galaksi “starburst” mengkonversi waduk gas dan debu raksasa kosmik menjadi bintang – bintang baru dengan kecepatan tinggi, ratusan kali lebih cepat dibanding ketika berada dalam galaksi spiral seperti di Bima Sakti.
Galaksi starburst merupakan galaksi yang sedang mengalami pembentukan bintang dengan laju yang sangattttttt cepat jika dibanding dengan laju rata-rata pembentukan yang diamati terjadi di galaksi pada umumnya.  Di dalam galaksi starburst, laju pembentukan bintang sangat besar sehingga memakan habis semua gas dengan skala waktu pembentukan jauh lebih pendek dari umur galaksi itu sendiri.
Dengan mata yang bisa memandang jauh ke kedalaman semesta, terutama pada galaksi yang sangat jauh dimana cahayanya butuh waktu milyaran tahun untuk bisa mencapai kita maka astronom dapat mengamati waktu-waktu sibuk ketika alam semesta masih sangat muda.
Semakin jauh sebuah galaksi, maka semakin jauh pula waktu di masa lalu yang kita amati. Karena itu, dengan mengukur jaraknya kita bisa mengetahui linimasa dari kerasnya alam semesta ketika membentuk bintang baru pada berbagai tahapan usia semenjak 13,7 milyar tahun perjalanan sejarahnya.
Pengamatan untuk melihat detil kelahiran bintang di masa alam semesta dini itulah yang dilakukan Joaquin Vieira (California Institute of Technology, USA) bersama timnya. Galaksi Starburst yang dilihat para astronom pertama kalinya dengan South Pole Telescope (SPT) 10 meter milik National Science Foundation. Setelah itu, barulah mereka melakukan pengamatan lanjutan dengan ALMA untuk mendapatkan data yang lebih detil lagi sehingga mereka bisa mempelajari bayi bintang di alam semesta yang masih sangat muda.
Yang mengejutkan, mereka justru menemukan banyak galaksi jauh dimana pembentukan bintang sedang terjadi pada jarak yang lebih jauh lagi. Artinya, rata-rata kelahiran bintang terjadi 12 milyar tahun lalu saat alam semesta masih berusia kurang dari 2 milyar tahun. Perkiraan awal para astronom, dominasi kelahiran bintang di alam semesta dini terjadi pada usia sekitar 3 milyar tahun.
Di antara galaksi-galaksi yang diamati, dua di antaranya merupakan yang terjauh. Bahkan karena jauhnya, cahaya dari galaksi itu sudah memulai perjalanannya ketika alam semesta baru berusia 1 milyar tahun. Dan di salah satu galaksi yang diamati, air merupakan molekuk yang terdeteksi keberadaannya dan menempatkan galaksi tersebut sebagai obyek teramati yang memiliki air terjauh di kosmos.
Pengamatan
Pengamatan  yang dilakukan ALMA memungkinkan tim untuk mengumpulkan cahaya dari 26 galaksi sejenis pada panjang gelombang sekitar 3 milimeter. Cahaya pada panjang gelombang tertentu di galaksi bisa dihasilkan oleh molekul gas di galaksi dan panjang gelombang kemudian mengalami pemuaian oleh alam semesta yang memuai sehingga butuh waktu lama untuk mencapai pengamat di Bumi. Dengan menghitung panjang gelombang yang memuai, astronom dapat menghitung waktu yang ditempuh cahaya dan menempatkan setiap galaksi dalam titik yang tepat dalam sejarah kosmik.
Teleskop-teleskop ALMA yang memiliki sensitifitas tinggi dan rentang panjang gelombang yang lebar memungkinkan para ilmuan melakukan pengukuran setiap galaksi hanya dalam beberapa menit – atau ratusan kali lebih cepat dari sebelumnya.  Sebelumnya, pengukuran seperti ini membutuhkan penggabungan data pada cahaya tampak dan data teleskop radio untuk kemudian dilakukan proses penghitungan yang cukup memakan waktu lama.
Meskipun pengamatan ALMA bisa memberikan jawaban untuk mengetahui jarak galaksi-galaksi jauh itu, tapi untuk beberapa galaksi para astronom memilih untuk menggabungkan datanya dengan data teleskop lain, di antaranya data dari Atacama Pathfinder Experiment (APEX) dan Very Large Telescope milik ESO.

Pengamatan Lensa Gravitasi. Kredit: ALMA (ESO/NRAO/NAOJ), L. Calçada (ESO), Y. Hezaveh et al.


Penemuan galaksi-galaksi jauh oleh ALMA ini dilakukan tanpa memanfaatkan seluruh teleskop ALMA. Dari 66 antena raksasa, hanya 16 antena yang digunakan untuk melakukan pengamatan. Bayangkan, baru 16 antena saja sudah bisa memberikan hasil luar biasa, apalagi kalau ke-66 antena bergabung menjadi sebuah teleskop tunggal.  Saat ke-66 teleskop bekerja kelak, maka ALMA akan memiliki sensitifitas yang jauh lebih tinggi lagi dan dapat mendeteksi galaksi redup. Tapi untuk saat ini, tim astronom masih menargetkan galaksi-galaksi terang dengan memanfaatkan teknik lensa mikrogravitasi, efek yang diprediksi keberadaannya dalam teori relativitas umum Einstein.  Cahaya yang datang akan terdistorsi  gravitasi galaksi latardepan yang bergungsi sebagai lensa sehingga sumber cahaya dari jauh itu tampak jadi lebih terang.
Untuk bisa memahami lebih baik lagi seberapa besar lensa gravitasi memperkuat kecerlangan galaksi-galaksi tersebut, tim peneliti di bawah pimpinan Joaquin Vieira mengambil citra yang lebih tajam menggunakan pengamatan yang dilakukan ALMA pada panjang gelombang 0,9 mm.
Menurut Yashar Hezaveh (McGill University, Montreal, Canada) yang memimpin pengamatan lensa gravitasi, “citra indah dari ALMA menunjukkan galaksi latar belakang yang melengkung dalam beberapa busur cahaya yang dikenal sebagai cincin Einstein, yang melingkari galaksi yang ada di latar depan. Kami menggunakan sejumlah besar materi gelap di sekeliling galaksi dalam setengah perjalanannya di alam semesta untuk menjadi teleskop kosmik agar lebih banyak lagi galaksi jauh yang tampak lebih besar dna terang.”
Analisa dari distorsi yang terjadi pada cahaya menunjukkan sebagian galaksi jauh pembentuk bintang memiliki kecerlangan 40 trilyun Matahari dan diperkuat 22 kali oleh lensa gravitasi. Menurut Carlos De Breuck (ESO), hanya ada beberapa galaksi akibat lensa gravitasi yang ditemukan pada panjang gelombang milimeter sebelumnya. Namun kerjasama antara SPT dan ALMA berhasil menemukan lusinan galaksi seperti itu. Hasil ini sekaligus menunjukkan kemampuan ALMA yang luar biasa sebagai pemain baru dalam kancah mencari galaksi-galaksi jauh di alam semesta dini.
Penemuan galaksi-galaksi starburst merupakan langkah awal yang baik bagi ALMA maupun untuk bidang kajian galaksi starburst. Langkah berikutnya adalah mempelajari obyek yang sudah ditemukan dan mempelajari lebih jauh bagaimana dan mengapa galaksi-galaksi tersebut bisa memproduksi bintang dengan laju yang luar biasa cepat.

Sumber Referensi:
http://langitselatan.com/2013/03/14/alma-melihat-kelahiran-bayi-bintang-di-alam-semesta-dini/